[^__^] Assalamualaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh [^__^]

Selasa, 07 Maret 2017

mendung disaat senja



 Sayang, kulihat kini kau agak murung. Padahal kita menikah baru seumuran jagung. Mestinya saat ini jadi saat-saat manis, untuk kita reguk berdua sebagai sepasang suami-istri. Pandai sekali berkilah, kau seketika tersenyum begitu aku coba menelisik wajahmu.

Seperti biasa, sehabis ngantor kau tidak langsung beranjak mandi. Meminta dulu secangkir kopi, lalu mengambil buku yang belum sempat kau habiskan untuk dipahami. Tapi buku tebal yang kau pegang kali ini, jelas hanya sebatas dibuka, tatapmu kosong. Tidak seperti orang yang sedang asyik membaca.

 “Sayang, kemarilah, duduk disini” Kau seketika memanggil. Aku tahu itu caramu saja untuk mengelak, agar aku tidak terus memperhatikanmu.

 “Ada apa?” Aku segera menghampiri, duduk disebelah kirimu. Kita terdiam sejenak, menyandar pada dinding.lapuk kamar kontrakan.

 “Nggak knapa-napa Say..,hanya ingin dekat aja,” Katamu datar, tersenyum kecil. Namun intuisiku merasakan tidak seperti itu, ada sesuatu yang tengah meresahkanmu.

 “Jujurlah, bukankah aku istrimu?” Aku coba membujuk, namun hanya membuat senyummu terhenti. Lalu tanpa permisi membaringkan sisi kepala kirimu di kedua pahaku, bermanja. Aku menunggu, kita terdiam.

 “Ada apa?” Ku kembali menelisik, sebelumnya ku ambil buku yang ia pegang. Tetiba perasaan ingin meringankan bebanmu menyeruak.

 “Apa hanya karena uang semua pertengkaran itu bermula?” Sekarang kau bertanya, lupa akan buku yang telah ku letakan ke atas karpet.

 “Maksudmu? Kenapa tiba-tiba berkata seperti itu?” Heran, tanpa judul ia berkata begitu, selalu begitu. Kini makin yakin, bahwa ada sesuatu yang kini mengusik hatinya.

 “tadi, sepulang dari pabrik. Aku tertahan lampu merah di perempatan jalan raya, kau tahu apa yang kulihat? Ku saksikan dua anak kecil seumuran enam atau tujuh tahun tengah berkelahi” Mendung diwajahmu makin menghitam.

 “Awalnya gimana bisa berkelahi di dekat perempatan?” Aku tertarik.

 “Entahlah, awalnya kulihat seorang temannya menarik kerah kaos temannya. Sebelumnya mereka ngamen bersama di pintu Angkot yang tengah berhenti, lalu tiba-tiba mereka perang mulut dan anak yang ditarik kaosnya tadi melempar uang rejehan pada ank yang membentaknya, seketika mereka adu jotos. Hingga ada seorang petugas lalu lintas, barulah mereka mereda.” Napasmu menghela, dapat ku dengar kau berusaha mengatur kembang kempisnya.

 “kau tahu? Kurasa makin hari makin bertambah saja anak-anak yang mengamen di perempatan itu.” Katamu lagi, resah.

 “lalu kita bisa apa? Aku memelas, kau terdiam. Kita tak merasa tak berdaya, hening sejenak . Masih memandangi tembok kontrakan yang kumuh.

 “Bila mereka, orang kaya, konglomerat. Dapat berbuat kebaikan dengan kekuatan hartanya, dengan pengaruh kedudukan sosialnya. Lalu kita, sepasang kekasih halal yang miskin ini, bisa berbuat apa?” Katamu lirih,

 “Kata siapa miskin? Bukankah kita punya cinta?” Aku coba tertawa, menyela. Hanya ingin sedikit member ruang dari kekakuan.

 “Mungkin, setidaknya, kita dapat berusaha untuk jadi orang tua yang baik” Aku tersenyum sendiri, mengelus rambutnya yang masih bercampur peluh dan debu jalanan.

 “hmm, iya ya. Solusi sederhana yang dapat kita lakukan baru sebatas itu”Senyum itu akhirnya terbit diwajahmu.

 “Eh ya, kamu dah hamil belum?” Seketika beranjak, kamu tersenyum begitu manis. Menatap lekat, sontak mata kita bertemu.

 “Ih, langsung kepikiran ingin segera jadi ayah ya?!” Aku tertawa kecil.

 “lho salah ya? Bukankah hanya aku yang punya SIM untuk menghamilimu?” Kita tertawa, mendung berangsur memudar, terhempas hangat mentar senja yang merona.

 “SIM?” Aku pasang wajah heran seketika, berpura tidak mengerti.

 “Iya SIM, seperti yang Pak Penghulu bilang waktu itu, dalam wejangan akhir prosesi ijab kabul” Kau makin lebar memperhatikan kebingunganku.

 “iya, SIM; surat ijin menghamili!?” kau jelaskan cepat, lalu tertawa. Aku ikut tertawa, kembali teringat, bagaimana Pak Penghulu sedikit berkelakar.

 Kita tertawa makin lepas, lalu merendah setelah adzan maghrib berkumandang.

#Tsabita, do’a seorang ibu.