[^__^] Assalamualaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh [^__^]

Selasa, 07 Maret 2017

Senja Menghujan untuk kita



 Sayang, cukup lama kita tertahan hujan, sedang senja makin melanda. Jika seperti ini, rasanya tidak terpikir untuk pulang. Cukup disini kita berteduh, menghindari cipratan air yang tersapu angin.

 “Apa kita sebaiknya menunggu saja?” Ku coba memecah hening, coba menyaingi rincik hujan yang kulihat menyita perhatianmu. Matamu meredup, memperhatikanku sedikit khawatir. Dingin mulai meraja, kita menggigil.

 Kau terdiam, tidak langsung menjawab. Mendongak kelangit sebentar, lalu menatapku.

 “Perjalanan kita cukup jauh, sedang jas hujan yang ada hanya selembar plastic yang tetap merembes bila hujan seperti ini” Suaramu sedikit bergetar, kedinginan.

 Aku coba makin mendekat, lalu kau mendekap sebatas tangan kirimu. Rasanya, ingin tetap seperti ini, syahdu meresap kedalam hati akan suasana romantic alami yang disuguhkan hujan.

 “Jangan tidur disini,” Kau tertawa kecil, lalu membelai kening hingga pipi dengan halus. Aku terhenyak, kurasa ada tenaga dalam ditangannya yang kasar; hingga pengaruhnya menghangat ke hati. Aku hanya terdiam saja menatap matanya, sejak kita bertatapan.

 “Dingin,” Aku makin merapat, tidak kuasa rasanya terus menahan terjangan matamu. Lalu kurasakan dekapanmu menguat, sepertinya kita benar-benar menggigil kini.

 “Eh say, katanya hujan lebat begini bagus lho buat pasutri” Seketika kau menyadarkanku.

 “Bagus, apanya?” Aku heran, ku lihat wajahmu nampak sedikit berubah. Meriang seperti ingin ikut berpesta bersama hujan, seperti anak kecil ditepi pantai saja.

 “Iya, bagus. Katanya hujan begini buat pasutri cepat beroleh momongan” Matamu berbinar, bergejolak.

 “Apa hubungannya?” Aku makin heran.

 “Kau lihat? Karena dinginnya saja kita jadi berdekatan serapat ini, apalagi berada dibawah terpaan airnya langsung. Haha..” Kau tertawa kecil, sedikit malu. Namun aku suka.

 “Dih,” Seketika aku melepas dekapannya, protes, dan tersipu. Malu, menyadari kini tengah berada dipinggir jalan raya. Didepan banyak orang berlalu lalang dengan mobil mewahnya, meski wujud kami membias oleh derasnya hujan.

 “Ayolah sayang, kita ujan-ujanan aj. Kapan lagi kita bisa begini” Kau sungguh bersemangat, menarik tanganku menuju sepeda motor yang terpakir dibibir jalan raya, keadaanya sudah begitu basah.

 “Coba idupin dulu motornya” Aku agak ragu, mengingat kembali sepeda motor tua yang suka meriang jika lama terguyur air.

 “Sebentar” Kau tersenyum, segera menghampiri sepeda motor yang menunggu. Sekejap saja seluruh tubuhmu basah kuyup. Lalu mulai menyelah tuas starter manual sepeda motor untuk menghidupkannya.

 Hingga sepuluh menit berlalu, motor kita masih mogok. Enggan menyala, berulang kali kau bongkar busi lalu menstarter kembali. Kau kini terdiam sebentar, memandangi sepeda motor satu-satunya.

 “Kenapa dengan motornya?” Aku sedikit berteriak, coba menyisihkan riak hujan yang memecah pendengaran.

 “Sepertinya mogok say, kedinginan kayaknya” Akhirny kau membuka suara setelah hampir setengah jam berlalu.

 “lalu?” Aku sedikit khawatir, kembali berteriak. Meski suasana begitu romatis, tetap saja tidak mungkin jika mesti bermalam dibibr jalan sedingin ini.

 “tolong bantu do’a” katanya ikut berteriak.

 “Berdo’a agar kita dapat beranjak untuk dapat melanjutkan perjalanan. Kau tahu sendiri, para peserta majlis pasti sekarang sudah menunggu lama” Ia terus berteriak, meski kaki kanannya terus menjejak tuas starter sepeda motor bebeknya.

 “Astagfirulloh” Aku teringat, menyadari ada banyak mansuia tengah menunggunya. Sedang aku terbuay, hingga hati ingin terus daam dekapannya. Saat hujan memang mustajab, bahkan percikan do’a yang tidak disadari seklipun.

 “Brum,, brumm,,!" Akhirnya sepeda motor kesayangan berhasil bangkit, menghangat setelah sebelumnya terus distart manual. "Alhamdulillah," Pujiku dalam hati, serta merta hujan dan senja makin terasa manis.

 “Say, cepat kesini. Motornya dah hidup” Ia berteriak kegirangan. Matahari diwajahnya makin berbinar, meski terbalur air. Cerah sekali. Aku seketika berlari menghampiri, kini kita berdua basah kuyup.

#Tsabita, do'a seorang ibu