[^__^] Assalamualaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh [^__^]

Rabu, 04 Oktober 2017

Kerlip-kerlip Harapan [8]

8. Tahkik Tajuk Sepi

“Disaat setan alas ramai membicarakan berbagai nikmat dan kekekalan hidup, kau justru berbicara tentang kematian,” Agak keras Mang Eman berbicara, lalu menatap seorang pemuda kurus yang tersurami rambut poni yang panjang, hingga menutupi sebagian mata. Ada yang berbeda dengan sikap Mang Eman kali ini, membuat lawan bicara dihadapannya bertanya-tanya sekaligus kaget. Sosok yang biasanya ramah dan lembut kini menampilkan wajah yang sungguh tidak membuat nyaman.

“Tapi, bukankah memperingatkan kepastian ajal itu suatu kebenaran?” Ardhi menyanggah pelan, coba terus mengatur perasaan dari keterkejutannya

“Iya, tapi dengan pernyataanmu itu hanya membuat lari semua orang, seibarat menolong orang yang tidak bisa turun dari memanjat pohon, dengan menariknya langsung dengan tali dari bawah hingga terjatuh!” Nada suara dari pria paruh baya dengan wajah oriental makin keras memenuhi kedai buah-buahan yang sepi, membuat lelaki muda dihadapannya bertambah murung.

***


Malam kian larut, namun Ardh tidak juga berkeinginan hendak pulang ke rumah, hanya termanggu-manggu sendiri, menatap kosong sepeda motornya sendiri, yang kini hanya satu-satunya terparkir di pelataran mesjid alun-alun kota. Terdiam lama dalam temaram sebatas lampu taman sewarna senja yang disengaja redup. Sesekali sinar terang menyilaukan dari kendaraan melintas, namun jiwanya seakan berjauhan dengan raganya sendiri, terus terdiam dengan alam pikirnya sendiri.

“AARGHHH!” Tiba-tiba sebuah teriakan panjang membuat Ardhi segera berdiri, menyatukan kesadaran pada kenyataan disekitarnya. Wajahnya mendongak kaget, ketika dilihatnya seorang lelaki berlari cepat, penuh kesetanan melawan arus di tengah jalan raya yang searah.

Seketika kegaduhan di jalan raya terjadi, maki-makian para pengemudi dan suara klakson kepanikan sahut menyahut menghardik pria yang hendak menubrukan dirinya sendiri. Tapi ajaib, pemuda malang itu tidak tertabrak, semua kendaraan menghindar spontan. Hingga akhirnya seorang lelaki nekat itu kelelahan sendiri, lalu berhenti berlari dan menepi sendiri kebahu jalan.

“Woi, udah bosan hidup ya?” Sebuah teriakan keras pengemudi masih terdengar tidak jauh dari hadapan Ardhi, membuatnya matanya makin lekat memandangi pemuda aneh itu dari jauh.

“Kenapa lebih memilih mati ?” Dengan membatin sendiri, mata Ardhi masih terus memandangi kearah pemuda yang dianggap sudah bosan hidup. Terlihat dari jauh, seorang remaja berpakaian mewah kini terduduk sendiri, dengan bahu naik turun menarik napas dengan cepat.

“Jangan heran Dhi, zaman sekarang emang banyak orang stress ingin mati” seketika suara lembut meluncur dari samping kiri. Dalam temaram, telah berdiri sesosok perempuan cantik yang kedatangan tidak terawasi Ardhi, membuatnya menoleh cepat. Dilihatnya wanita itu ikut memandang dengan tanpa ekspresi.

“Airin?!” Ardhi terpekik, kembali teringat saat-saat hujan di losmen merah, dimana saat itu sempat membuat dada begitu bergemuruh. Dimana terasakan peperangan hebat dengan dirinya sendiri, antara hasrat menggebu sejak menyaksikan kemolekan dirinya, dan ajal yang tiba-tiba kuat terbayang, justru disaat lekat memandangi wajahnya.

#kerlip-kerlip harapan
Ar, 13 September 2017