[^__^] Assalamualaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh [^__^]

Jumat, 13 Oktober 2017

Panggilan Gila [3]

3. Gerah Musim Penghujan
Hujan baru saja berlalu. Ketika mentari terbenam bersama cahaya benderangnya, segeralah malam mengambil alih bersama rembulan dan gemintangnya. Awan-awan mendung segera tersapu angin, hanya sekian menit saja mendung gelap menurunkan airnya. Musim penghujan kali ini membuat Aldi resah. Karena musim kali ini, dirasakannya tidak menentu –sebagaimana musim penghujan tahun lalu—yang biasanya menderas hampir sepanjang siang, atau bahkan hingga malam.
Aldi termenung, benar-benar tak habis pikir, tentang keanehan musim penghujan kali ini. Namun Fatimah –yang kini tengah duduk disebelahnya—jauh lebih heran dengan sifat suaminya yang jadi senang menyendiri. Bahkan terkesan asosial, pikir Fatimah. Mnurutnya, kini Aldi bukan lagi seperti lelaki yang dikenal sebelumnya, bukan lagi lelaki yang mempunyai langkah panjang, yang senang bergaul dengan pekerjaannya yang dinamis,dengan segala tantangannya. Bahkan lelaki disampingnya itu terlihat seperti seorang prajurit yang kalah dan lari dari medan perang, karena takut dan trauma. Fatimah ingin mengutarakan segala keganjilan pandangannya, namun hatinya yang perasa terlalu takut untuk menyinggung perasaan lelaki yang telah menjadi suaminya itu. Seiring pertanyaan besar yang kian bertambah dalam dirinya, ia sekuat tenaga menguatkan hati untuk tetap diam. Fatimah jadi membatin sendiri.
“Fatin lihat! Tunas-tunas cabe itu begitu segar meski dengan sesingkat hujan sare tadi,” Aldi berseru, berusaha membesarkan hatinya sendiri, hingga membuyarkan ketermenungan Fatimah di sampingnya. Istrinya disampingnya itu segera menoleh, memperhatikan wajah Aldi yang sebenarnya tidak menoleh sejak memanggilnya. Fatimah menarik napas panjang, lalu kembali melemparkan pandang ke arah yang tengah dipandangi dipandangi suaminya.
“Iya Bang, alhamdulillah,” Jawab Fatimah datar --nyaris selirih bisikan untuk dirinya sendiri--, namun Aldi masih dapat mendengarnya dengan jelas, hingga membuat lelaki itu menoleh.
“Ada apa?” Aldi langsung memastikan. Tangannya langsung membuang lintingan tembakau yang hampir menyengat jari-jemari dengan bara di ujungnya. Lalu dengan segera lelaki itu merapatkan diri ke arah istrinya yang masih termenung.
“Nggak ada apa-apa Bang,” Jawab Fatimah cepat, lalu kembali melemparkan pandangannya ke tengah kebun, setelah sebelumnya membalas tatapan suaminya dengan tersenyum. Tapi Aldi menangkap wajah istrinya itu seperti acuh tak acuh. Sepasang suami istri kini saling mendiamkan, seakan mengijinkan segala suara-suara malam mengambil alih. Tapi Aldi tidak membiarkannya lama.
“Fatim! Malam kian larut, yuk masuk!?” Seketika Aldi memecah keheningan  dengan istrinya  seraya berdiri, sedang tangan kanannya telah memegangi pergelangan kiri Fatimah dengan hangat. Demi melihat suatu isyarat di wajah suaminya, fatimah segera ikut berdiri hingga memasuki rumah. Setelah mengantar Fatimah ke dalam kamar, Aldi segera mengunci segala pintu dan jendela, mematikan segala lampu yang berpijar –kecuali teras dan kamar mandi--. Aldi pikir, kini istrinya mempunyai hajat yang--dengan kebanyakan pembawaan khas seorang wanita— akan terlalu malu ----jika dirinya harus berbicara lebih dulu--.
                ***
                Fatimah melihat jarum jam di dinding masih berjarak setengah jam lagi menuju adzan subuh. Namun dirinya segera melangkah memasuki jamban, guna melarutkan letih tubuhnya yang begitu sangat. Terlebih pikirannya. Segera ia meraih air bak dengan gayung, setelah pintu kamar mandi ia kunci dari dalam.
                “Kamu benar Fatimah! Abang memang melarikan diri dengan berkebun, lalu mau apa?!” Terpejam mata fatimah demi teringat nada keras suaminya beberapa jam sbelumnya, lalu segera ia mengguyurkan segayung air di tangan ke atas kepalanya.
                “Nggak Bang, Fatim nggak nggak kenal Abang yang seperti itu, Abang biasanya tangguh dan menyukai tantangan pekerjaan yang ada,”
                “Entahlah Fatim, Abang merasa sangat rapuh, dan pekerjaan disana bukan tantangan yang harus dihadapi, tapi suasana yang harus dijauhi,”.
                “Bagaimana bisa Abang merasa rapuh? Ingat Bang, kita telah dititipi anak-anak yang segera beranjak dewasa, yang biaya pendidikan dan kebutuhannya nya kain besar! kita tidak bisa terus sepeti ini Bang?!”
                “Cukup fatimah! Abang mohon!”
                Meski telah begayung-gayung air membasahi tubuhnya, air mata Fatimah kian menderas, terus terngiang pertengkaran semalam meski berdebat sengit selirih bisik angin, terlebih saat mengingat wajah dan matanya suaminya saat memohon. Fatimah benar-benar melihat jiwa suaminya itu kini begitu menyedihkan. “Raga perkasa pun jadi begitu menyedihkan, jika jiwa telah kalah,” Fatimah membatin dengan terus mengguyurkan air hingga bak penampungan didekatnya kering.
                .
#panggilangila

Ar, 12 Okt. 17