[^__^] Assalamualaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh [^__^]

Senin, 14 Mei 2018

Cerpen: Yang Merajuk Dipelukan Malam

Melihatmu yang terpaku di ujung samudra, membuat kedua kaki ini seakan menunggu. Saat-saat sesepi ini memang membuat matamu memperlihatkan aku, yang terus menunggu. Hingga lelah telah memuncak dan tidak dapat lagi kau tahan.
Namun kedua bibirmu itu kini terbuka. Lalu berkata, "Ayo kita pulang !".
.
Senja telah lama berlalu, entah berapa kali bergulunggulung ombak disapu angin dikedua bola matamu. Dalam remangnya temaram bulan, masih dapat terlihat gemerlap mata itu yang masih menatap tajam ke ujung langit. Tapi aku masih membisu, menunggu ia membuka suara. Aku tak ingin mengganggu perenungannya, meski sangat ingin sejenak bertanya, "Apa yang sepi berikan untukmu? Hingga kau biarkan aku tetap menemanimu? Apakah hanya demi kesenanganmu itu? Atau justru deritamu?,"
.
"Dengarlah sekisah lalu yang terus saja mengusik pikiranku, Bahwa siang pernah mengabarkan padaku, perihal sengketa sepasang kekasih yang saling bicara namun tidak juga menemukan titik temu,"
.
Kali ini kulihat kedua matamu mengendur, memandang lembut dan lekat. Namun sayang, aku tak memiliki sepasang mata untuk membalas tatap indahmu itu. Bersama hela napas panjang, kau kembali membuang muka ke ujung pandangan mata.
.
"Siang yang penuh kabut pernah berkata padaku, tentang dua manusia manusia yang berdebat akan hakhak para kekasihkekasihnya. Mereka terus berdebat hingga pagi tanpa menemukan titik temu, hingga akhirnya berpisah dengan beroleh dengki dan amarah. Hingga saling caci, hingga saling dengki, padahal masingmasng pihak sebenarnya telah memendang rasa cinta yang begitu kuat,"
.
"Benarkah? Bagaimana bisa? Sepasang kekasih yang saling mencinta memutuskan berpisah?"
.
"Karena mereka mendengarkan katakata cinta dengan telinga kekanakan, dan berbicara dengan egosentris kekanakan juga,"
.
Aku tidak mengerti ceritamu itu, sungguh.
.
"Mereka menanggung urusan orangorang dewasa terlalu belia,"
Bagaimana bisa kau berkata seperti itu? Nadamu itu terdengar menyalahkan mereka. Bukankah segala yang terjadi selalu maksud pelajaran yang telah dietapkan untuk mereka?
.
"Ya, memang. Umur mereka telah matang. Tapi mereka berkatakata begitu kekanankan,"
.
Misalnya?
.
"Saat salah seorang bertanya dan berbahasa dengan bahasa perasaan, maka salah seorang lainnya menjawab dengan bahasa logika. Dan saat saat logika menuntut jawab, justru mendapati sebuah bahasa perasaan,"
.
Lalu apa masalahnya? Bukankah perbedaan kecenderungan itu yang membuat mereka saling melengkapi?
.
"Kau benar, tapi kabutkabut superioritas dari keduanya membuat dua kecenderungan itu berbenturan, Mereka saling mencintai tanpa kesatuan arah tujuan,"
.
Hahaha! Kesatuan arah ?! Sejak kapan dua kecenderungan yang berbeda menyatu dalam satu arah tujuan?
.
"Tentu saja ada,"
.
Sejak kapan? Pun mereka saling mencintai, rasanya mustahil..
"Sejak keduanya diciptakan dan ditetapkan ikatanikatan termasuk ikatan cinta. Bukankah.. setiap apa yang diciptakan itu selalu terikat apaapa yang menjadi garis ketetapan dari Penciptanya?
.
Lalu, apa hubungannya semua cerita itu dengan kita di tempat sunyi ini?
.
"Aku ingin mengajakmu, mencari aturan dan pedoman sunyisunyiku ini,"
.
Untuk apa?
.
"Untukku selamat dalam menyesapinya, agar siang tidak lagi terampas waktunya, juga agar aku dapat tertidur sebagaimana mestinya,"
.
Oh maaf, itu tidak mungkin,
.
"Kenapa?"
.
Karena kau telah mencintaiku, dan tidak ingin berpisah denganku, hingga wajar bila siang tak lagi penting bagimu.. meski disiang itu saatsaatmu paling mendesak untuk mencari penghidupan.
.
"Bagaimana bisa kau mengatakan itu? Dengar! Aku masih mencintainya, dan membutuhkan kehadirannya,"
.
Hahaha! Kau sendiri tahu, siang tidak pernah berubah terhadap sesiapa yang bergerak dalam pelukannya,
Dia tidak berubah, lalu mengapa kau berubah?
Sebagaimana yang kau ingat, bahwa siang tetap cerah bersinar untukmu dalam mencari penghidupan, hanya saja kau terlalu lelah untuk melihat segala kenyataan, lalu berpaling darinya,
.
"...,"
.
Kau pikir telah mendapati kenyataan terlalu dini, kau hidup namun dengan jiwa kekanakan, kau hanya ingin terus berbicara padaku yang sepi, namun enggan mau mendengar tuntutantuntutan siang yang yang harus dipertanggungjawabkan,
Kau hanya,
.
"Kenapa denganku?"
.
Kau hanya harus menerima kenyataan, dengarlah kini suara ayam jantan berkokok, dan itu tandanya aku harus pergi. Maka berbuat adil lah terhadap siangmu, meski kau tidak mungkin dapat berbuat adil
.
"..."
.
Selamat tinggal, aku pamit

Ar, 14052018