[^__^] Assalamualaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh [^__^]

Selasa, 21 Maret 2017

Buah Hati Yang Dinanti



Sayang, sungguh diri ini betapa senangnya mendapati kau pulang, dengan tidak kurang sesuatu apapun.

Di sore hari ini, kau datang terlihat begitu tampan dan menarik. Entah karena ajaibnya bias cahaya senja yang mulai merona, entah karena saking kesalnya aku; karena rindu sudah begitu kuatnya.

Dengan sapa mesra seperti biasanya, kau tersenyum saat pertama kali mengetuk pintu bernaung kita. Maaf, aku tidak kuasa menahan diri, segera saja memeluk tubuhmu yang belum kering terbasahi peluh.

"Kamu kenapa sayang?" Kau tertawa kecil mendapatiku histeris, memelukmu. Entah kenapa seketika air mata ini jatuh, rasanya bahagia membuncah tiada terkata, aku ingin terus seperti ini. Selalu dekat didekapmu, selamanya.

"Udah ah, malu diliat tetangga" Katamu tersipu, air muka yang sama saat kau datang meminangku setahun yang lalu dihadapan keluargaku. Bersamamu waktu sungguh terasa sangat singkatnya, meski kerap kau tinggal pergi untuk urusan bisnis yang mulai berkembang. Aku melepas pelukan dengan cepat, untung saja tiada kulihat seorangpun di jajaran teras kontrakan.

"Bagaimana malammu?" Katamu riang tersenyum, tangan kekarmu menepuk-nepuk lembut ujung kening yang ku tutupi dengan kerudung biru. Aku hanya mampu tersenyum, menyeka air mata yang sedikit menetes.

“Hey? Ada apa ..?” Matamu seketika mendekat, melihat langsung ke tengah mataku yang sembab, lalu dengan cepat tangan kasarmu menyekanya.

“Tidak,,” hanya kata itu yang sanggup ku ucapkan, kekesalan semalam karena menungumu hilang seketika. ‘berhentilah cengeng’ hatiku bersikeras menahan air mata.

“Masuk dulu, biar saya siapkan air panas untuk mandi” Aku seketika menghindari tatapannya yang tajam, masih merasa malu.

“Tunggu dulu, “ Katamu cepat, kini kau genggam pergelangan tanganku cukup kuat, hangat, sedang pandangmu terus memburu. Aku hanya terdiam, menunggu.

“Air panasnya nanti saja, aku masih ingin dekat denganmu. Sungguh malam diluar sana terlalu sepi tanpa kehadiranmu” Matamu kembali mendekat, memperhatikan lebih dalam wajahku. Nafasmu mulai dapat kudengar kini, berusaha teratur menahan suatu gejolak aneh, sebagaimana malam terakhir kita bercumbu. Cengkramanmu menguat, hatiku berdebar seketika.

“klek!” pintu tertutup. Tanpa kusadari tanganmu yang lain menutup pintu, setelah tangan kananmu menuntunku masuk lebih dalam ke petak kontrakan. Lalu syurga dunia terbuka, membuatku perlahan melayang. Terus melayang hingga ku sadari kau tersenyum begitu manis. Sangat manis, paling manis dari setiap wajah manusia yang tersenyum padaku dihari itu.

Hingga senja berlalu, seketika tersadar mendengar para pendiri shalat menyeru ditiap penjuru. Kita masih tersenyum, lalu berebut membersihkan diri untuk menyungkur pada-Nya. Bersyukur atas segala nikmat-Nya.


#Tsabita, doa seorang ibu