[^__^] Assalamualaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh [^__^]

Kamis, 09 Maret 2017

Dua jiwa di satu atap



   Malam menjelang tengahnya, senyap kau menyahut, tertelan sunyi. Hanya matamu saja yang bicara, dan aku mengerti. Aku tunggu kau bicara, hening.

   Sayang, kau terdiam terlalu lama. Menunggu selalu saja terasa lama, terlalu apik kau memilih kata.

   Sebenarnya ada satu hal yang ingin kutanyakan, sesuatu yang baru ku ketahui dari catatan harianmu di masa lalu. Namun bibirku seketika kelu, roman wajahmu kulihat ingin mengatakan sesuatu, sepertinya urusan yang cukup penting.

   "Mulai besok aku tidak lagi ngantor" Katamu tiba-tiba, kini kau memeriksa wajahku dengan hati-hati.

   "Kenapa bisa begitu?" Aku terhenyak, kaget. Bagaimana tiba-tiba kau memutuskan begitu saja? Padahal pekerjaan itu cukup bagus, dengan penghasilan dan prestise yang menggembirakan.

   "Kontrak kerja tidak diperpanjang, hari ini adalah hari terakhir" Datar, tenang kau berkata.

   "Aku coba wiraswasta saja," Katamu cepat, seakan merasakan perasaanku yang mulai khawatir, bayangan kedepan yang mungkin tidak akan selapang kini, kita harus lebih berhemat lagi.

   "Saya serahkan padamu, saya ikut saja bagaimana baiknya" Aku membalasnya lemah, wajahmu ikut meredup.

   Aku kembali menelusuri kembali wajahmu, menelisik tiapsudutnya. Keningmu sedikit mengkerut, alismu yang panjang terlihat lebih merapat. 'Suatu urusan belum selesai,' Pikirku, masih memandangmu yang sedikit menunduk.

   "Sayang, tadi ku temukan catatan harianmu dirak buku. Maaf, tadi kubaca sebagian, penasaran.." Aku berikan sebuah buku harian yang cukup tebal, matamu beralih seketika pada apa yang ku pegang. Kau terlihat sedikit malu, namun berusaha tetap tenang. Aku tertawa kecil melihat ekspresinya, coba memecah sunyi.

   "Itu sebatas masa lalu, saat masih SMU.." Kau mulai mejelaskan, namun terhenti. Selalu saja banyak pertimbangan, seperti mengerti apa yang kumaksud; aku cemburu.

   "Sudahlah, itu sebatas masa lalu. Yang terpenting sekarang adalah bagaimana kita melanjutkan hidup dengan jalan rezky yang baru, wiraswasta" Katamu datar, selintas saja menanggapiku.

   "Segera dagang, apa saja.yang penting bukan menjual yang haram dan melanggar hukum" Seketika aku membalas, sedikit kesal karena kau coba mengalihkan.

   "Hey ada apa denganmu sayang? Itu sebatas masa lalu" Kau kini tertawa. Merebut buku harian yang ku pegang, lalu lekat memeriksa mataku.

   "Tapi pasti kau selalu mengingatnya kan?" Aku seketika meninggi, kau hanya tersenyum. Aku makin kesal.

   "Jika aku tak ingat masa laluku, bagaimana kita sekarang bisa bersatu" kau tertawa, lagi-lagi berkata aneh, membuatku makin bingung.

   "Ngomong apa sih? Nggak ngerti" Aku menegas, kau berhenti tertawa. Hanya tersenyum.

   "Kau tahu, orang gila dan amnesia tidak pernah ingin menikah. Bagaimana Ingin menikah? Dengan diri sendiri saja lupa" Kau masih tersenyum, sedang aku hanya melongo mendengar penjelasanmu. Sungguh tak terkira bagaimana laki-laki berpikir.
 
    Kurasakan sungguh kau berbeda kulihat kini, datar saja. Tidak seperti ungkapanmu di catatan harian yang kubaca tadi siang.

#Tsabita, do'a seorang ibu