[^__^] Assalamualaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh [^__^]

Rabu, 04 Oktober 2017

Kerlip-kerlip Harapan [11]

11. Sekisah Lalu.

“Ada satu kisah teman yang ingin Mang Eman ceritakan,” Seorang tua bermata sipit menghela sejenak, menyeruput kopi hitam dihadapannya dengan perlahan, mencuri pandang langsung ke tiga wajah muda mudi dihadapannya. Karena penglihatannya merabun tergerus usia, dirinya tidak menyadari ada seorang perempuan disamping Ardhi yang besembunyi di balik tutupan kupluk dan jaket longgarnya. Tanpa ragu, tanpa menanyakan asal ususl ia segera memulai kisah untuk coba mencairkan suasana keterasingan dari kedua temen Ardhi yang belum dikenalnya.

“Dahulu, ada seorang pemuda yang sangat membenci ayahnya. Ayah kandung yang tidak pernah dilihatnya langsung sejak ia menyadari menyadari keberadaannya di dunia itu, ayah yang tidak pernah membuat ibu yang sangat disayanginya itu selain menangis jika dirinya menanyakan keberadaannya, hingga anak tersebut tidak berani lagi mengungkit-ngungkit perihal ayahnya sendiri.

Suatu saat, keadaan ibunya telah begitu payah menghadapi suatu penyakit yang telah lama bersarang di tubuh perempuan itu, dan akhirnya kematian menjemput, meninggalkan anak satu-satunya seorang diri. Saat itu umur pemuda tadi hampir sebaya kalian,” Mang Eman menyeruput kopinya kembali, sambil menghela napas panjang untuk meneruskan cerita,

“Setelah berhasil mengenali wajah ayahnya dari selembar foto di dalam lemari pakaian ibunya, anak tersebut segera pergi merantau ke kota, dimana nama alamatnya tertulis jelas di balik foto tadi.

Kian hari, kian waktu, perlahan amarah pemuda itu terlupakan, ayahnya telah hilang sama sekali dari pikirannya. Selain karena disibukan aktivitas perburuhan untuk bertahan hidup, pemuda tadi juga kini telah mulai mengenal cinta, yang dengan perasaan cintanya itu bertekad untuk memperbaiki taraf hidupnya untuk dapat meminang seorang gadis yang telah lama di kenalnya. Mengubur jauh-jauh masa lalu, untuk mencapai suatu masa depan yang indah, begitulah pikiranya dengan penuh berbunga-bunga.

Suatu waktu, selepas pemuda itu pulang kerja tengah malam, matanya menangkap sosok gadis yang dicintainya tengah tertawa-tawa di rangkul seorang lelaki paruh baya di suatu taman kota yang tidak jauh dari tempatnya bekerja. Seketika amarahnya meledak dan langsung melabrak, tapi yang membuatnya sangat begitu marah adalah sikap gadis tersebut yang berbalik berang ke pada pemuda tadi, dan mengakui bahwa dirinya tidak lain seorang wanita panggilan karena alasan keuangan untuk melanjutkan hidup.

Seketika pemuda itu memukul lelaki hidung belang dihadapannya dengan penuh amarah, hingga lelaki itu meninggal dunia di tempat. Pemuda itu makin kalap, ditambah perempuan yang tidak lain adalah kekasihnya itu menjerit-jerit histeris makin membuatnya gelap mata hingga kedua tangannya mencekiknya hingga tidak bernapas,” Mang eman kini terdiam, kembali menyeruput kopi yang tak terasa hingga ke ujung ampasnya. Matanya memeriksa kembali ke wajah ketiga pemuda dihadapannya, namun dirinya sedikit kecewa karena ketiganya tidak terlihat mengerti.

“kalian tahu inti ceritanya?” Seorang tua selalu merasa perlu, menegaskan kembali akan apa yang dikisahkannya. Namun ketiga pemuda-pemudi yang mendengarkannya hanya menggeleng perlahan, nampak diwajah belia itu berusaha keras memahami maksud cerita dari seorang tua dihadapannya. Sedang kopi telah habis, dan malam kian menepi.
***

Masih tersenyum dan tertawa-tawa kecil, Momi masih enggan melepaskan rokok yang hampir habis ditangan kanannya. Dirinya sejenak membiarkan seorang pemuda tegap dihadapannya melancarkan serangan syahwat ke titik-titik sensitif tubuhnya. Hingga suara keras pemuda dihadapannya memecah malam di ruang kedap suara itu,

“WHAAAA!” Pemuda tegap itu seketika memegangi kepalanya dengan teriakan gaduh, mengosok-gosok cepat rambut yang menebarkan bau hangus dengan kedua tangannya, ketika perempuan cantik setengah baya menjadikan ubun-ubun lelaki tersebut tidak lebih dari asbak untuk memadamkan bara api puntung rokok di tangan Momi.

“AHAHAHAHA! Kalian lelaki emang terkutuk!” Gelak tawa Momi berubah mencadi cacian dan umpatan mengerikan, sejak pikiranya mengingat cepat akan anaknya dan mantan suaminya yang lama hilang. Amarahnya kian membuncah, lalu dengan cepat menendang berulang langsung ke wajah pemuda itu dengan hak tinggi selopnya yang runcing dan keras. Kini mengucurlah deras darah segar di kening dan pipinya, tapi Momi makin membabi, terus saja menendang ke arah wajah, dan setelah pemuda itu terjengkang, kini kakinya menjejak keras ke bagian leher, tepat di urat nadi.

“HAHAHAHA!” Momi merasakan kepuasan yang paling puncak, ketika benar-benar memastikan, bahwa dirinya telah menaklukan seorang lelaki.

#kerlip-kerlip Harapan
Ar, 21 September 2017