[^__^] Assalamualaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh [^__^]

Rabu, 04 Oktober 2017

Kerlip-kerlip Harapan [5]

5. Tak Serupa Bahasa Hujan

"Sering-seringlah mampir, nanti kita meluangkan waktu mengunjungi seorang sepuh jika ada waktu luang, kita coba rasakan, bagaimana berkata-kata dengan alam, pada dedaunan pagi yang terbasahi embun, pada batu yang setia pada tempatnya hingga tertutupi lumut, dan pada mahluk alam lainnya," Seketika Ardhi menepi keujung trotoar jalan, sejak tetes-tetes air dari langit dirasakan mengenai dagu. Wajahnya langsung mendongak kelangit, dilihatnya mendung, membuatnya teringat pesan Mang Eman sebelum ia berlalu pamit.

Sementara hujan mulai merinai lebih kerap, Ardhi tidak langsung memakai jas hujan guna meneruskan perjalan pulang. Tiba-tiba dirinya merasakan kerinduan pada penuturan Mang Eman yang teduh, sebagaimana hujan yang turun menjelang senja saat itu, saat dirinya tidak tersita waktu untuk pergi bekerja.

"Wahai hujan, benarkah aku dapat berkata-kata padam?" Ardhi kembali mendongak kelangit, membiarkan wajahnya terbasahi jatuhan air hujan yang lembut serupa taburan anai-anai. Berkata-kata sendiri dalam hati, dalam diam, seraya menutup kedua mata, berharap segala kesunyian jiwa itu terjawab.

"Oh indahnya jika ku mengerti bahasa hujan," Entah mengapa Ardhi merasakan suatu keadaan berbeda, seakan hujan menjawab segala bisik-bisik hatinya dengan derap taburan airnya, dengan hembusan angin yang dibawanya, dengan hawa udara dingin khas yang menyertainya. Lalu seketika Ardhi tertunduk saat hujan seketika menderas, seperti menampar keras wajahnya.

"Ah hujan, apakah kau pun hendak menyalahkanku? menyalahkan kepengecutanku?" Ardhi membathin, matanya masih terpejam, namun bayangan kepalanya berubah seketika, kali ini wajah Airin terbayang jelas.

"Pengecut!" Suara Airin Senja itu kembali bergema di benak Ardhi, senja dengan hujan yang sama bergemuruh dadanya saat itu. Setiap mengingatnya, entah mengapa Ardhi merasakan takut teramat sangat, takut mati jika benar-benar meneruskan niat mencurahkan birahi pada Airin, takut mati saat telanjang bersama mereguk nikmat berzina. Lalu entah bagaimana hingga dirinya begitu saja berjanji untuk membawa pergi Airin dari losmen merah itu, hanya demi melihat kedua matanya saat bercanda mengajaknya ke KUA.

"Bodoh!" Ardhi menyadari kelemahannya sendiri, bagaimana dengan bodohnya saat itu mencari pelarian hanya karena penat dan kesepian.

"Bodoh!" Ardhi kembali merutuki dirinya, saat mengingat awal bagaimana dirinya hingga memasuki losmen merah itu, yang mempertemukannya dengan Airin saat itu.

"Ckiiittt! JEDERR!!" Sebuah suara keras langsung menyadarkan Ardhi. Tidak terlalu jauh dari tempatnya berdiri terlihat sebuah mobil tertimpa pohon besar yang sebelumnya berdiri kokoh di bahu jalan. Sedang Ardhi mendapti sekujur badannya gemetar. Merasakan dengan sadar, bahwa sebenarnya hujan itu kini bercampur angin ribut, dan arus lalu lintas jalan raya seketika terhenti.

Ardhi makin terpaku ditempatnya sendiri.

#kerlip-kerlip harapan
ar, 8sept2017 -- at 23:23