[^__^] Assalamualaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh [^__^]

Rabu, 04 Oktober 2017

Kerlip-kerlip Harapan [9]

9. Di Payung Temaram

"Airin?!" Pekik pelan seorang lelaki saat mendapati seorang wanita dengan menoleh. Lalu tersenyumlah wanita itu, merasakan seperti ada yang meletup di dalam hati, menghangatkan jiwa, mencairkan kebekuan yang kian keras mengkristal ditempa sepi. Namun ada risau yang menyela, karena Airin melihat lelaki itu seperti takut mengadapinya, sebagaimana pertemuan lalu di losmen merah. lelaki yang telah menyita pikirannya kini benar-benar dekat dihadapannya, namun dirinya masih juga merasa kaku, sebagaimana lelaki itu.

"Kau masih mengingatku?'Airin memberanikan bicara, coba menafikan tatapan misterius dari laki-laki dihadapannya, yang kini masih tetap diam, membalasnya sebatas mengangguk, lalu kembali menghadapkan tubuh ke arah remaja yang tadi dilihatnya.

"Kenapa dengan dia sebenarnya?" Suara berat yang ditunggu akhirnya terdengar, membuat Airin berani mensejajarkan diri dengannya, ikut memandangi remaja yang tadi seperti kesetanan di jalan raya.

"Entahlah," Airin membalas cepat, meski merasa kecewa karena tidak benar-benar disambut oleh lelaki yang perlahan terus membayangi pikirannya sejak pertemuan sebelumnya.

"Airin, apa sebaiknya sekarang kita dekati orang itu?" Seketika Ardhi menoleh langsung ke wajah Airin, hingga perempuan itu mengangguk, ikut memicingkan mata, coba melihat remaja yang tersamar jarak dan temaram dari lampu jalan yang kurang baik. Lalu keduanya mulai melangkah, mendekat ke arah remaja yang masih terduduk sendiri cukup jauh dari hadapan mereka berdua.

"Ardhi, bagaimana kau hingga sepeduli itu pada orang yang sama sekali tidak kau kenal?" Airin membatin, berpikir ulang akan sikap Ardhi yang dianggapnya sebuah empati, "atau simpati?". Ingatan Airin kini kembalk berlari ke losmen merah, saat pertama kali bertemu Ardhi, hingga membuat dirinya merasa disayangi.

***

Malam temaram mengalir bersama lampu redup jalanan, menaungi seorang remaja yang tampak terpekur, dengan terus bertanya-tanya sendiri, membatin penuh amarah.

"Mengapa untuk mati saja sulit?" Umpatnya sendiri, namun nalarnya berangsur kembali, bersama satu kenyataan mengherankan yang baru ditemuinya. Lalu batinnya kembali mendesah, "kenapa aku tidak mati tertabrak saja?".

"HAHAHAHA!" Seketika tertawa lepas, meneriaki jalanan malam yang tidak peduli.

"Kau memang ingin membuatku tersiksa!" Penuh amarah, lantang menunjuk-nunjuk langsung ke langit hitam, hingga tercekat merasakan tenggorokannya kering. Matanya tiba-tiba tersentak, saat menjatuhkan pandangannya kembali ke jalan.

"Kenapa dik? ada yang bisa kakak bantu?" Dua orang telah menghampirinya cukup dekat. Lalu salah seorang laki-laki mendekat lagi hingga turun berjongkok, menyodorkan sebotol air mineral dengan tersenyum.

#kerlip-kerlip harapan
ar, 15 sept 2017