[^__^] Assalamualaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh [^__^]

Rabu, 04 Oktober 2017

Kerlip-kerlip Harapan [4]

4.Oase Kota

Suara mesin sepeda motor seperti mengerang melintasi belantara kota. Demi mengusir penat, Ardhi memutuskan berkunjung ke kedai buah di jantung kota. Ada teman sejak ia sekolah di jenjang lanjutan tingkat atas, yang tidak terbatas hanya karena almamater sekolah yang sama.

Siang ini, Ardhi hanya ingin melepas penat dan kekesalan, dan terpikir hanya mengunjungi seorang lelaki tua yang sejak sekolah dirasa selalu menenangkan gejolak amarahnya. Lelaki itu adalahseorang penjual buah-buahan segar yang membuka kedainya di dekat sekolahnya dulu. Seseorang yang dirasakannya sebagai ayah sekaligus teman untuknya berbagi.

Kini Ardhi tiba di sebuah kedai buah yang dituju, wajahnya seketika bertambah muram. Orang yang dituju tidak terlihat, kedainya tutup, begitu pula saat langsung menuju rumah pemiliknya yang tida jauh dari tempatnya berjualan. Ardhi makin uring-uringan.

Hingga adzhan dzuhur berkumandang, segera Ardhi memarkir sepeda motor dengan lesu di halaman mesjid. Dengan hampa ia sgera mengambil air wudhu.

“Akankah pantas? membawa kekesalan ini kerumahMu yang begitu dimuliakan ini ya Rabb?” Ardhi melangkah ragu, lalu terdiam sejenak di ambang pintu demi menetralisir kekesalan yang entah mengapa kini dirasakannya tidak patut dibawa serta memasuki tempat sujud.

“Lho.. knapa diam? Ayo masuk!” Sebuah suara ringan yang khas membuyarkan lamuan dari arah belakang. Sontak Ardhi menoleh cepat, lalu tertawa seketika.

“Mang Eman?!” Ardhi seketika terhenyak, bercampur riang. Kecerahan kini mejalari cepat wajah belianya, lalu dengan cepat ia menganggup, mengikuti sosok paruhbaya mengisi shaff.

***

“Nggak kuliah, belum tentu duniamu kiamat Dhi,” Mang Eman hanya tersenyum ringan mendengarkan keluhan Ardhi.

“Tapi saya merasa di anak tirikan Mang,” Ardhi sedikit kesal, dukungan yang diharapkan tidak didapatinya kini.

“Iya, tapi kamu rugi dua kali, jika hanya berharap keadilan dari manusia, karena bagaimanapun adilnya seorang manusia kerap tidak sesuai idaman kita. Dalam bahasa kita bukan adil, tapi proporsional..” Mang Eman berkata lebih lirih, seperti tertegun. Ardhi sedikit heranKn, tapi tetap bungkam.

“Nanti pasti kamu mengerti jika sudah menjadi orang tua,” Mang Eman masih menatap kosong, pikirannya kini tidak lagi bersama Ardhi.

“Kenapa harus menunggu saat itu untuk memahami keadilan?” Sergah Ardhi cepat.

“Pokoknya, kamu pasti akan selalu kecewa jika berharap ferpeksionis kepada manusia!” Mang Eman menatap cepat langsung ke wajah Ardhi.
“Entahlah, saya pun masih belajar bagaimana itu adil, apalagi semenjak istri meminta cerai..” Mang Eman meneruskan, suaranya melirih. Suatu yang disesalkan dimasa lalu kembali membayangi wajahnya. Sedang Ardhi hanya tertegun mendengarkan penuturan Mang Eman, amarah yang ia bekal dari rumah kini teralihkan oleh buah masalah yang lain. Cukup lama Ardhi memandangi wajah yang teduh dari lawan bicaranya, kerut-kerut usia kini terlihat terbalur letih memahami kehidupan.

“Untuk itulah Dhi, di zaman edan ini kita harus terus mempertahankan kewarasan kita, dan kuncinya adalah dzikrulloh.. bukankah banyak orang lupa sekarang ini karena lupa pada Penciptanya? Hingga ada depresi lalu bunuh diri, atau berbuat jahat hingga seorang suami membunuh istrinya!”

“haha! Udahlah Dhi, jangan terlalu diambil pusing, ayok kita ngopi dulu!?” Wajah Mang Eman seketika kembali ceria, mempersilahkan menikmati kopi yang kini datang diantar seorang gadis kuning langsat serupa dengan kulit dan wajah Mang Eman.

“Ssstt, itu siapa Mang? Perasaan baru lihat.. karyawaty baru?” Ardhi tersenyum seketika, demi melihat gadis dengan seulas senyum dihadapannya

“Hus! Itu putri sulung saya..!?” Mang Eman cepat seraya memicingkan mata ke arah Ardhi, penuh selidik. Lalu tangannya mengusap wajah Ardhi cepat, “ghadul basor hey!”.

#kerlip-kerlip harapan
Ar, 8sept2017