[^__^] Assalamualaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh [^__^]

Kamis, 05 Oktober 2017

Panggilan Gila [2]

2. sepi selimut malam seorang istri

Tanah di sepetak kecil milik Aldi kini terlihat menghitam menunggui malam, bekerlipan ujung-ujung tepi bagian atasnya, bergelombang permukaannya, setelah terkoyak ujung cangkul penghujung siang. Tanah warisan turun temurun itu kini terlihat bekerlipan menadah sinar rembulan, setelah sebelumnya terguyur lentik gerimis di saat senja.

Fatimah hanya terdiam sejenak, melihat Aldi di sebalik jendela dapur. Suaminya itu masih juga terduduk di ujung kebun, dengan hanya berlindung selembar sarung untuk melawan dinginnya malam di tepi lembah. Suaminya itu terlihat tidak mengantuk sedikitpun. Dengan tenang menyeruput kopi hitam yang hampir habis, sambil sesekali mengepulkan asal tembakau rajangan yang di belinya langsung dari pasar. Fatimah melihat mata suaminya itu tengah tajam memandang jauh ke tepi kebun yang kelam, dirinya lalu menuju kamar seorang diri, karena mafhum, disaat seperti itu, Aldi tidak bisa di ganggu. “Benarkah suamiku itu seorang lelaki aneh sebagaimana omongan para tetangga?” hatinya sedikit khawatir dengan kebiasaan suaminya akhir-akhir ini, tapi cepat-cepat Fatimah menepis pikirannya.

“Ah pasti hanya aku saja yang tidak cukup pintar untuk memahami logika seorang lelaki,” batinnya kembali berbisik dengan tersenyum, lalu Fatimah segera berbaring di ranjang kayu.

Aldi sebenarnya seorang lelaki yang ceria dan mudah bergaul, tapi sejak kepulangannya dari kerja proyek di jakarta segala sikapnya itu berubah. Kini lelaki itu jadi lebih senang menyendiri di kebun, menyibukan diri dengan segala pekerjaan bercocok tanam, meski keuntungan dari pekerjaan barunya itu jauh lebih rendah beberapa kali lipat dibanding pekerjaannya saat merantau ke Jakarta. Entah apa yang terjadi sebenarnya, Fatimah sendiri tidak berani untuk coba bertanya. Selama suaminya mau bekerja, telah menjadi tekadnya untuk terus mengabdikan dirinya sebagai istri yang baik bagi suaminya.

Hingga jam demi jam berlalu, Fatimah hanya berguling-guling resah seorang diri. Karena matanya sendiri enggan terpejam, dirinya segera bangkit kembali menuju jamban untuk mengambil air wudhu. Pikirnya, sekali-kali tak apalah memperbanyak shalat sunnat setelah shalat yang wajib, memohon petunjuk dan jalan keluar untuk segala kesulitan keluarganya, berdoa juga untuk suaminya untuk di beri pencerahan jika memang ada permasalahan besar yang tidak berani suaminya utarakan duduk perkaranya. Saat melintas ke dapur yang menjorok ke kebun di belakang rumahnya, matanya masih melihat Aldi tetap terduduk memeluk lutut dengan selubung kain sarungnya, masih terpekur sendiri. Fatimah masih segan menegur suaminya dalam keadaan seperti itu, karena dipikirnya; ada saatnya lelaki ingin sendiri untuk menyelesaikan masalahnya, dan setelah suatu ide penyelesaian itu muncul, ia pasti akan segera datang untuk membicarakannya, lalu akan kembali berlindung mendekap dirinya dengan hangat, sebagaimana lazimnya seorang suami terhadap istri, sebagaimana lazimnya seorang lelaki. Biasanya Aldi memang seperti itu, “tapi tidak untuk malam ini,” sesal Fatimah dalam hati. Lalu Fatimah kembali menuju kamar dan membaringkan dirinya seorang diri, meski tanpa dekapan hangat Aldi disampingnya.

***

.Sejak suaminya pulang dari kerja proyek merantau di ibu kota, Fatimah merasakan sehari-harinya bertambah pelik. Bagaimana tidak pelik? Sekarang penghasilan suaminya tidak lagi pasti setiap bulan, tapi harus menunggu masa panen. Sedang kebutuhan diri dan keluarganya itu menderas setiap hari. Untuk itulah, diam-diam Fatimah mencari pekerjaan harian untuk kebutuhan keluarganya. Meski Aldi tidak mengijinkannya untuk bekerja, tapi nalurinya sebagai ibu tidak bisa melihat ke tiga anaknya hanya makan nasi dengan garam, apalagi sekarang masa tumbuh kembang anak yang sangat menentukan. Sejak saat itulah, Aldi dirasakannya kian dingin, hingga hampir setiap malam menghabiskan waktunya duduk-duduk d tepi kebun dengan kopi dan temabakaunya, dengan dekapan kain sarung usangnya, seakan menunggu tanam-tanamannya itu tumbuh-kembang langsung di depan matanya.

“Seharusnya kau mengerti bagaimana perasaanku Fatim, apa kata orang tentang Abang bila membiarkan istrinya menjadi buruh cuci untuk makan sehari-hari? Terlebih keluargamu itu yang bergengsi tinggi sebagai keterununan seorang raden, darah biru kaum ningrat!” Saat itu Aldi membentaknya karena pulang mendapati dirinya tidak berada di rumah seperti biasanya, dan Fatimah hanya dapat merunduk mendengarnya segara kemarahan suaminya. Fatimah memang seorang wanita khas desa yang lebih suka mengalah meski dirinya mempunya alasan kuat.

“Jika kerja sampingan di rumah gimana Bang? Menjahit baju misalnya?” Saat amarah Aldi mereda, dan suaminya itu telah terlihat asyik kembali dengan sepetak kebunnya di belakang rumah, Fatimah kembali memberanikan diri meminta ijin kepada suaminya. Aldi tidak membalas, hanya tersenyum mengangguk setuju. Menjahit mungkin belum menghasilkan pundi-pundi rupiah setiap hari, tapi Fatimah bepikir itu jauh lebih baik dari pada hanya menuntut suami di luar kuasanya dengan hanya bertopang dagu, apalagi mengeluh.

Maka dibelilah, sebuah mesin jahit bekas dari tetangga sebelah rumah dengan uang tabungan yang masih tersisa. Fatimah memang selalu mengepal kuat dalam urusan uang. Sikap pelit itu ternyata sangat membantu di saat seperti ini, “disaat roda kehidupan sedang berada di bawah,” jika para orang tua bilang, dan Fatimah yakin, saat roda kehidupan itu akan kembali berada di atas. Fatimah pikir, suaminya itu pasti akan kembali menghidupkan malam-malam mereka berdua yang kini terasa dingin, malam yang hangat berselimut dekap penuh cinta dari seorang Aldi sebagaimana sebelumnya, saat sebelum suaminya itu merantau ke ibu kota untuk pekerjaan proyek. Fatimah terus meyakinkan dalam hati, lalu bibirnya kini tersenyum; membayangkan masa depan cerah yang akan mengembalikan segala sikap suaminya yang kini berubah.

#panggilangila
Ar, 5 okt. 17