[^__^] Assalamualaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh [^__^]

Minggu, 15 Oktober 2017

Panggilan Gila [4]

4. Orang Gila

   Aldi hanya dapat menarik napas panjang, ketika merasakan sikap istrinya yang menjadi lebih dingin akhir-akhir ini. Pagi ini, Fatimah tidak banyak berkata-kata setelah menyiapkan secangkir kopi untuknya. Tapi Aldi berusaha tidak peduli, lalu dengan segera membenamkan diri ketengah kebun –memulai membersihkan anak rumput yang mulai banyak tumbuh di berbagai tempat—berusaha mendiamkan hatinya yang terasa perih. “Oh Fatimah, bagaimana Abang menjelaskan semuanya padamu?” Batinnya berbisik sendiri, seraya memadangi istrinya yang kini memunggunginya dan berlalu, hingga menghilang di balik pintu dapur. Sekarang Aldi mulai berkonsentrasi dengan semua tunas-tunas cabe asuhannya, dengan kembang kempis dadanya, bergemuruh sendiri.

   Hingga pagi terus beranjak, sinar mentari tidak juga muncul menerangi bumi. Kawanan awan merapat dan buram, terus saja menadahi menadahi sinar mentari untuknya sendiri, tanpa menyisakan celah untuk kehidupan dibawahnya –yang tetap menggigil, dalam sisa sunyi udara semalam--. Tapi belum lama Aldi mendongak kelangit, kedua telinganya kini mendengar suara teriakan istrinya, yang memanggilnya untuk segera datang ke teras depan rumah. Aldi sejenak bersyukur bahwa akhirnya kembali berkata-kata terhadapnya, meski tidak pernah merasa nyaman dengan segala suara semacam itu. Naif, tapi biarlah.

“Waalaikum salam, oh Pak RT?” Aldi segera menyambut kedua tangan yang telah terjulur, sejak lelaki itu mengucap salam kembali di muka pintu.

“Mari masuk pak!”

“Oh nggak usah Pak Aldi, terima kasih, nggak lama kok, sekedar memberi kabar penting,”

“Oh, kabar apa Pak?”

“Begini Pak Aldi, tau Rumah Sakit Jiwa yang berdiri di RW sebelah kan?”

“Lho, memang kenapa dengan Rumah Sakit Jiwa itu Pak?”

“Begini Pak, saya dapat kabar dan himbauan dari mereka, bahwa ada pasien mereka yang kabur subuh kemarin, nah! Jika saja Pak Aldi lihat pasien dengan ciri-ciri sebagaimana foto ini, tolong! segera beritahukan pada saya secepatnya, jangan bertindak sendiri! karena kata mereka pasien tersebut sangat berbahaya” Dengan memandang nanar, lelaki renta itu menyodorkan secarik foto kepada Aldi. Kedua lelaki itu terdiam sesaat, lalu Pak RT memecahkan ketermenungan Aldi saat undur diri.
***
Sehari, dua hari, hingga hampir seminggu, Fatimah masih terlihat enggan berbicara dengan suaminya. Namun Aldi tidak peduli sedikitpun, dan merasa tidak mesti meminta maaf, karena dianggapnya wibawa selaku sebagai kepala rumah tangga harus kukuh berdiri --kaya, mapun miskin--. Segera saja, rumahnya yang dirasakannya lebih sebagai tempat pelarian dari realitas lingkungan di kampungnya itu, tidak lain menjadi bak neraka.

Aldi kini hilang selera makan dan tidurnya di waktu malam. Terjaga di sepanjnag malam, lalu teridur menjelang pagi, sedang otaknya terus berputar kian cepat, bak gangsing yang tidak jelas pangkal dan ujungnya. Kecuali mereguk kopi hitam dan dan menyesap tembakau, yang justru dirasakannya kian berasa nikmat. Sejak Pak RT datang membawa kabar dari Rumah Sakit Jiwa, bertambahlah beban pikirnya. Seraya mengepulkan asap tembakaunya ke angkasa, Aldi terus saja memandangi wajah pasien Rumah Sakit Jiwa ditangannya itu, “foto ini benar-benar telah mempengaruhi manusia sekampung’’ bisiknya, “tapi mengapa terpengaruh?” otak Aldi terus menderu.

Aldi pikir, Pak RT memang telah sukses  mempengaruhi masyarakat. Pemberitahuan beliau, perihal pasien Rumah Sakit Jiwa yang kabur itu telah membuat masyarakat resah. Ibu-ibu grup rumpi telah mengganti topik kesehariannya dengan berbagai kemungkinan mengerikan jika orang gila itu ngamuk-ngamuk, hingga mewabah dengah cepat di hampir seluruh desa. Kini para penduduk tidur lebih awal, jalan-jalan kampung kian sepi. Sementara otaknya terus berpikir, mulut Aldi dengan tenang mengepulkan kembali asap tembakau, dan kembali mereguk kopi hitam pahitnya.

“Ah ya! Ini memang bisa dijual!” Aldi meneriaki bathinnya sendiri, seketika bakat alam seorang otak bisnis segera bergeletar, menuntutnya lebih jauh. Apalagi diingatnya Fatimah telah lebih giat mencari orderan jahit, selain kian mendiamkan dirinya. Meski Aldi seorang lelaki penyuka wanita pendiam, tapi dirinya benar-benar tidak suka didiamkan. Tiba-tiba, rasa kekalahan kembali menguasai, kembali mendera bathin seorang ayah dengan tiga anak itu, membuatnya merutuki dirinya sendiri. “Laki-laki tidak boleh kalah oleh perempuan!” Batinnya meronta. Lalu kian kecut, saat kopi yang direguknya sebatas ampas, hingga dengan kesal ia menyesap terlalu dalam selinting tembakau tembakaunya, hingga batuk-batuk.

“HAHA! Barangkali, sekarang ini memang ada orang gila bisa berpikir..”
Sebuah suara ringkih tiba-tiba memecah kesunyian, membuat Aldi terlonjak dari duduknya, ketika dilihatnya seorang lelaki tambun telah dekat dihadapannya dengan tergelak. Pandangannya tajam, pakaiannya lusuh, tapi Aldi tidak menyadari semua itu. Emosinya telah mengambil alih lebih dulu, demi mendengar sebuah bahasa yang dirasakan hanya sebuah ejekan terhadapnya. “Apa maksudmu?!” Aldi membentak marah. Amarah telah membuatnya lupa, bahwa lelaki dihadapannya itu bukanlah salah satu penduduk tempatnya tinggal. Lelaki itu begitu kumal, tertawa seperti orang gila, membiarkan ramputnya tidak tersisir sebagaimanamestinya.

“Hehe anda begitu pemarah, maaf, maaf, HAHA!” Lelaki itu tidak menghiraukan ketersinggungan Aldi. Tapi ia tidak berhenti disitu, lalu dengan langkah perlahan, ia makin mendekat, berbisik langsung ke wajah Aldi seraya melotot, “Anda gila, menyesap asap yang membuat batuk, semakin batuk, semakin anda hisap.. bukankah, itu perbuatan gila?”

#panggilangila

Ar, 14 Okt. 17