[^__^] Assalamualaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh [^__^]

Rabu, 04 Oktober 2017

Kerlip-kerlip Harapan [13]

13. Terantuk Kantuk

Ardhi mengedip perih, menadah angin yang datang dengan cepat ke permuakaan wajahnya. Setelah mengantarkan Rendi pulang, dirinya harus segera meluncur ke tempat kerja, meski merasakan kantuk yang kian berat. Beruntung sempat mandi sebelumnya di Mesjid alun-alun kota, meski tidak berganti pakaian, air telah jauh menyegarkan tubuhnya, kecuali mata yang memerah dan terasa panas karena begadang semalaman.

Sepeda motornya melaju pelan, Ardhi merasakan kantuk dengan nikmatnya. Membuat bola mata sesekali meredup, namun segera terhentak saat laju motor dirasa oleng, namun sesekali terantuk kembali. Hingga ingatannya kembali ke rumah Mang Eman, dirinya menyesal sendiri, telah membuatnya marah, “dengan mengajak Airin ke kedainya? Ah kenapa harus semarah itu?” batinnya membela diri.

“TOOTTTT!”
Sebuah peringatan keras memboros dari pengguna mobil dari arah sebrang, membuat Ardhi seketika tersadar, bukannya menyadari kelalaiannya karena melamun, hatinya malah dongkol, menyalahkan yang tidak bisa disalahkan, “siapa juga yang mau menjalani kejemuan dalam hidup? Hingga enggan pulang, lalu menghabiskan waktu di jalanan, lalu bertemu Mang Eman, lalu merasa nyaman dan ingin berteman dengan Mang Eman, lalu saat mang Eman marah jemu kembali, lalu mencari teman yang diharap senyaman Mang Eman, lalu banyak begadang dengan teman hasil pencarian kenyamanan, lalu memboyong teman hasil pencarian ke rumah Mang Eman (karena tiada lagi tempat yang terpikir dapat menampung teman-teman tidak jelas selain menurut diri sendiri), lalu Mang Eman marah karena salah satu teman keluyuran malam itu adalah seorang perempuan, lalu aku melamun, lalu kenapa mesti marah-marah hey sesiapa yang mengendarai sedan mewah ?!” Dengan panjang membatin dan mendumel sekedar hatinya sendiri, napas Ardhi naik-turun menatap tajam jalanan yang sejuk dengan mata panas berwarna merah.

“Persetan dengan semua itu!” Terletup singkat dengan lirih dari mulut Ardhi, buah letupan dari suara-suara kekesalan dalam hati, setelah kekagetan yang sangat karena suara klakson panjang dari sebuah mobil mewah, kekagetan karena tersadar paksa dari lamuanannya sendiri itu, ketus meletup singkat dalam umpatan yang hanya didengar angin, namun lekat menempeli kerapuhan hatinya sendiri, hingga lupa rasa dengan nikmat yang telah bebas menghembus-hirup udara sejuk di pagi hari.

#kerlip-kerlip harapan
22 September 2017