[^__^] Assalamualaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh [^__^]

Sabtu, 17 Februari 2018


Aku Mengakui Pengakuan
.
Kita pernah tersenyum, di tengah rinai hujan yang menjadi senarai nada melodi hati. Seakan, semua perasaan itu begitu haru, sekaligus memburu untuk berseru, suatu nama, yaitu aku. Inilah aku yang berbahagia denganmu.
.
   Karena memang menariknya. Jiwa eksistensi si aku itu, begitu membutuhkan --untuk menggenapi- mu. Dan kuyakini, begitu pula denganmu. Aku --kita- saat itu terasa begitu menyatu, seakan dunia ini untuk kita berdua, "yang lainnya biarkan menumpang," Katamu tertawa. Semakin membuat aku itu kian berbunga.
.
   Hingga waktu terus berlalu, menguji, menjelaskan pada kita, pada aku sebagaimana anggapan kita, bahwa aku itu ternyata bukan aku kita berdua, aku itu bukanlah milik kita berdua atau diri kita sendiri. Hingga kita tersadar, siapakah yang paling layak berkata sebagai aku? Diakui, yang hadir, eksis tanpa pernah bisa disanggah, saat senyap maupun riuhnya pengakuan. Yang berdiri sendiri tiada membutuhkan yang lain.
.
   Nyatalah kita takkan menjadi aku --yang menguasai segala- pun itu sebatas imagi juga mimpi, karena kita sebenarnya ada, untuk menggenapi pengakuan keberadaanNya, yang berlaku atas segala kita yang memang fana.
.
   "Lihatlah, anak kita termenung mendengar lagu berjudul faded dari Alone Walker bergaya urban gembel," katamu risau.
.
   "Dan memang, mencari dan terus mencari seperti telah menjadi ciri, bahwa kita tidak bisa sendiri, tidak mungkin sendiri, menjalani hidup seorang diri. Karena kita, bukan aku, " Mencoba berkata bijak, meski kau rasakan pula kerisauanku. Hingga kita berseru,
"Anak-anak juga bukan milik kita,"
.
Ar, 17 feb 2018