[^__^] Assalamualaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh [^__^]

Kamis, 05 Oktober 2017

Panggilan Gila [1]


1. Kemilau di kemendung langit

Kemendung langit siang ini hanya mendampratkan air sekejap saja, hujan tidak menderas sebagaimana yang di harapakan. Aldi menghela panjang ketika sebelumnya berlari untuk berlindung disisi naungan, namun hatinya mencelos, karena kebun yang diimpikannya akan tersejuki guyuran hujan di awal penghujan ini tetap kering dan keras. Kepalanya mendongak kelangit dengan cemas, menyesapi pikirannya sendiri. Bukan lahan perkebunannya yang kian kerontang yang ia cemaskan, atau pohon-pohon cabe yang terancam gagal panen. Bukan itu, pikirannya telah melangkah begitu jauh, sangat jauh, hingga para tetangganya tidak ada yang mengerti jalan pikiran dan arah pembicaraannya. Bahkan menganggapnya gila, tapi ia tidak ingin peduli. Matahari kini hampir tepat berada di atas ubun-ubun, hari kian terik, teduhnya awanan mendung sebelumnya menyingkir, cangkul-menjacangkul terhenti, lalu seorang melangkah pelan ke tepi kebun.

“Suatu saat, hasil tanah akan menjadi produk yang paling diburu, karena semua orang pada akhirnya selalu ingin yang asli untuk perutnya dan tidak akan ada yang ingin meracuni dirinya sendiri dengan pangan rekayasa,” Ia berkata sendiri dipinggiran sepetak kebun yang tidak terlalu luas. Dengan bernaung di bawah pohon mangga yang teduk, ia terduduk sendiri untuk melepas lelah. Tanah bersemu merah itu membuat pinggangnya pegal, peluh telah lebh dulu memandikannya, hingga tenaganya terkuras habis. Sejenak angin lembut membuatnya segar, di peluk ketedukan dedaunan membuatnya sedingit terhenyak lelap. Hingga sebuah suara memecah kantuk dadakannya itu,

“mau di bikinin kopi lagi?”.

Seketika ia menoleh ke asal sumber suara, kini bibirnya tersenyum ringan, berseri, ketika dilihatnya wanita yang menurutnya paling cantik didunia itu kini mendekat, dengan senampan pisang goreng.

“HAHH?! Mau di biniin lagi?” Wajahnya sejenak melogo, lalu dengan senyum nakal memasang mimik gaya orang betawi, menunggu reaksi wanita yang kini ikut terduduk di sebelahnya.

“Dih! Abang mikirnya kesitu terus!?” Seketika Istrinya melotot. Setelah meletakan dengan kesal senampan pisang goreng di tangan, wanita itu segera membuang muka membuang muka dengan cemberut, tapi tidak beranjak pergi.

“Hehe.. becanda Neng,” Dengan tergelak, kini ia kembali dengan gaya bicara suku aslinya sendiri, Sunda.

“Neng nggak suka ah abang becanda kek gitu lagi!” Bibirnya mengendur, tidak terlipat sekaku sebelumnya, wajah cantik seputih pualam itu menatap serius, sayu. Lembut menelisik lelaki di sbelahnya yang kini telah menjadi suaminya.

“Iya, iya Neng.. maaf.” Ia masih tersenyum membalas menatap. Di matanya wanita di sebelahnya itu tidak juga membuatnya jemu, bahkan setelah hidup bersama selama sebelas tahun sejak usia pernikahannya itu. Disaat berdua seperti ini, sepasang suami istri itu merasa kembali menjadi pasangan anak baru gede, meski telah mengurus tiga buah hati yang ketiganya kini sedang belajar di sekolah pendidikan dasar.

“Kalo nambah kebun bibit gimana?”

“Nah itu boleh bang, bagus malah, ntar neng lebih leluasa belanja buat kebutuhan abang sendiri, nggak pusing ngatur keungan.. karena hasil panen pasti nambah juga” Dengan berseri, wajahnya kian melembut, kerut-keriput halus di sekitar pipi dan ujung mata kini menmpakkan diri dengan samar.

“Kebun bibit manusia?”

“Tuh kan.. Abang mikir nggak sih? Baru punya istri satu aja dah susah begini, apalagi punya dua abang..”

“Kan dengan gotong royong semua beban akan lebih ringan, dan semakin banyak yang menggotong, maka semakin ringan bebannya,”

“Emang ada yang mau di ajak susah?”

“Nah Neng sendiri kan buktinya?”

“Ini nasib Bang, karena dah kejadian. Dah lah Bang, cukup Neng aja yang susah jadi istri Abang, nggak papa Neng udah bisa iklash sekarang,”

“Oh kalo Abang kaya berarti boleh dong?”

“Serah ah! Pusing Neng dengan jalan mikir Abang!” Istrinya sewot, segera beranjak ke dapur rumah yang tidak jauh dari kebun tempatnya mengolah lahan. Semakin dipikir, jalan pikir istrinya semakin tidak dimengertinya, karena dirinya yakin konsep gotong royong itu dapat diterapkan pada segala hal, termasuk tanggungan kemiskinanya.

#panggilangila
Ar, 3 Okt. 17