[^__^] Assalamualaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh [^__^]

Sabtu, 26 Mei 2018

Mengejar Tawa


[Sebuah Cerpens]
*
Merasa jenuh hingga bosan, entah pun merasa bosan hingga jenuh, entah sejak kapan ikut masuk meriuh-rendah ke seisi ruang kepala. Membuat merasa penuh, tidak nyaman, sebagaimana seorang bocah yang berbuka melepas nafsunya dari kekangan.
.
"Tapi itulah berbuka puasa, ia berbuka terhadap apa yang ia puasai," Katanya ringan saja menetapkan hukum, demi melihat seorang bocah yang tidak kuat berdiri lagi saat sisuruh shalat magrib selepas berbuka puasa. Ia tertawa, namun anak itu menderita, sedang aku hanya mampu terdiam tak berdaya. Melawan sekian banyak penurut buta hanya akan mengantar nyawa, dan itu realita.
.
Maka aku beranjak, merasakan tidak nyaman dari holaqoh para jamaah penyembah. Eksklusif, bila boleh perasaan ini bicara. Sayang, perasaan kerap menipu. Tidak pernah bisa jadi acuan, karena perasaan bukan ukuran. "Universal harusnya," Dan kali ini giliran perasaan sendiri mengahakimi, biarlah. Soal hati sendiri entah siapa yang menggerakan bibirnya, entah pun seperti apa wujud bibir itu sendiri. Polos, tidak akan bisa menjangkau segala merah hitam dunia. Realitas.
**
Seperjalan pulang dari tajug wacana, teman-teman seperjuangan seperasaan menyapa.
.
Seakan tidak langsung memang kami seperti satu dalam ikatan emosional penderita. Merasakan bagaimana kesalnya dicampakan oleh orang-orang yang diharapkan cintanya. Seperti ayah misal, ibu, kekasih. Bebas saja, hendak kemana kau anggap siapa yang menjadi pelepas dahaga kasih itu. Hanyasaja kami sebenarnya tidak terikat dalam pencarian dalam satu tujuan; Tentang bagaimana mengenyahkan murung yang sebenarnya kami anggap sumber segala penyakit, serupa kesedihan. Hingga persaudaraan menjadi hambar, membuat bubar, saling menyelisihi dalam ego-ego setiap geng dan sekte perasaan itu sendiri. Ya, kami memang mencari tawa --bagaimana pun caranya- pun itu dengan candu, fantasi, atau membenturkan kepala demi sensasi gila.
.
Maka aku memilih sekedar menyapa saja, lalu pamit. Karena seketika perasaanku kembali bertahta. Ini tidak menyenangkan, bisiknya. Dan aku percaya.
***
Sebuah rumah akhirnya ku jejak terasnya. Sejak memasuki halamannya saja selembar selimut hangat dan cahaya perapian telah lebih dulu membayang.
.
Tapi segera kembali langkahku berbalik sejak pintunya ku buka, karena ternyata didalamnya hanya berisi duka nestapa.
.
Lihatlah! Bila kau ikut serta melangkah bersama memasukinya. Akan kita lihat tiang-tiang penyangga telah lapuk keropos, pijakan lantainya bergelombang serapuh lumpur payau, sedang dindingnya kusam terhiasi segala citra-citra bengis dan angkara. Kau pun pasti tidak ingin memasuki, kau pun pasti ingin segera keluar, karena bisa saja rumah itu akan rubuh meski dengan sapuan sinngkat angin-angin senja.
.
Tidak! Aku pasti akan menganggapmu gila, bila justru kau ingin memperbaikinya dari dalam. Dan tawa-tawa yang kucari bukan untuk melihatmu gila, atau binasa.
***
Akhirnya kita mendapati tempat yang benar-benar kita harapkan, dengan tawa-tawa renyah begitu menyenangkan. Menikmati lapangnya tiup-tiupan angin kelegaan, di bawang naungan cahaya kebahagiaan.
.
Namun sayang, perasaan itu bukan ukuran yang membuat kita lapang dalam suatu keyakinan.
.
"Tapi setidaknya kita dapat berkawan, karena itu niscaya dalam setiap perjalanan," Kau pasti akan berkata-kata seperti itu akhirnya. Baiklah, aku setuju. Maka kita harus coba baca kembali cerita ini dari awal. Dengan cara baru, dengan tanpa membubuhkan kata-kata perasaan --yang tidak pernah jadi ukuran- itu.
.
Ar, 26052018