[^__^] Assalamualaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh [^__^]

Minggu, 26 Maret 2017

Menikmati Perubahan

 Sayang hari ini sungguh terasa indahnya, sejak kemunculan janin dalam rahimku ini,seakan semuanya memang berubah. Terutama dengan apa yang dirasakan sendiri olehku, mungkin kau pun menyadari. Hanya saja, kau selalu berhati-hati, lebih memilih diam untuk sesuatu yang belum jelas.

 Sayang, kau mungkin merasakannya bagaimana perasaanku. Akhir-akhir ini kepekaan hatiku terasa terlalu sensitive, lalu kau hanya terdiam, membuat egoku serasa tidak terbalas, padahal sangat ingin kau balas. Aneh, aku sendiri merasakannya. Tapi entah kenapa, emosiku akhir-akhir ini serasa diluar kendali.

 “Nggak pa-pa Mah, ngidam itu biasa untuk ibu hamil “ Katamu hanya tersenyum, setiap kali kucoba mempertanyakan akan suasana hatiku yang kerap berubah tidak menentu.

 “Tapi sungguh nggak nyaman dengan semua ini Pah,” Aku menimpali seketika, kau terdiam.

 ”Bila boleh jujur Pah, ini aku sangat nggak suka dengan bau tubuhmu sehabis mandi dan bau nasi, maaf.

 “Kata ibu-ibu sekitar, perempuan ngidam memang begitu. Aneh-aneh,” Aku meneruskan, ada rasa bersalah seketika, melihatmu kini terlihat sedikit murung.

 “Lalu menurutmu sendiri, bagaimana dengan perempuan ngidam tadi?” Kau berkata tenang, menatapku perlahan. Aku hanya menggeleng, tidak tahu harus menjawab bagaimana dengan pertanyaannya.

 “Jadi begini Mah, menurut data yang Papah ketahui. Ngidam itu suatu keadaan psikologis ibu hamil karena adanya perubahan hormon besar-besaran didalam tubuh ibu hamil. Kau pun kadang uring-uringan saat datang bulan kan?” Kamu tertawa kecil, lalu cepat meneruskan. Aku hanya dapat mengangguk, tanda setuju dengan argumennya.

 “Ibu hamil yang tengah ngidam emang kerap aneh, bahkan temen bisnis papah ada yang ngeluh; saat istrinya minta ayam kalkun bakar di tengah malam, permintaan yang menurut temen papah tadi mustahil karena tidak ada yang jual ayam kalkun bakar dikampungnya. Bahkan ada yang lebih ekstrim anehnya, lebih mustahil.permintaanya” Kamu masih tertawa, kulihat kau berusaha menahannya. Jadinya terlihat menyeringai, seperti mengejek.

 “Jadi salah ya? Jika ibu hamil ngidam?” Entah bagaimana suaraku seketika meninggi, sewot. Kulihat kaupun sedikit tercengang, kaget.

 “Oh nggak mah, nggak salah. Papah hanya ingin menjelaskan secara ilmiah; kenapa ibu hamil aneh-aneh jika sedang ngidam, tapi itu tidak lama, hanya beberapa minggu hingga bulan saja” Kau menjelaskan kembali, seperti khawatir membuatku merasa tersudut. Aku memang merasa tersudut, sungguh.

 “lalu gimana dong? Aku nggak mau ntar minta aneh-aneh..” Aku bingung, ntah mengapa seketika ingin merengek. Sedang kau masih saja menahan tawa, samar senyum itu jelas-jelas seperti menyeringai para penjahat.

 “Kenapa? Takut ntar memberatkan Papah ya? Meski Papah bau, tapi sebenernya Mamah terlalu sayang dengan Papah kan?!” Katamu kegirangan, mendelik nakal.

 “Ih, gampang geer nih Papah !” Aku merenggut, langsung berbalik. Namun kau menepukku pelan, kau kembali mengajakku berbicara.

 “Kenapa nggak didik saja dulu psikologis mamah saat ini? Atau, jika memang benar itu factor bawaan janin seperti yang dikatakan ibu-ibu tetangga; kenapa nggak kita mulai saja mendidik janin kita sejak sekarang?” Kau tersenyum bebas kini, aku sendiri merasa menemukan titik cerah meski belum mengerti sepenuhnya.

 “Mah, saat kita berpuasa itu berat nggak mesti menahan haus dan lapar?” Katamu meneruskan, aku hanya dapat terdiam, kau nampak lebih serius. Karena menggeleng kau lanjutkan berkata, aku mendengar saja.

 “Lalu bagaimana dengan anak-anak yang pertama kali belajar shaum dibulan ramadhan? Bukankah kita pun saat itu uring-uringan nggak menentu? Lalu orang tua kita akan mengajak kita jalanjalan santai atau apa saja demi membuat kita terlupa dengan haus dan dahaga kita saat itu. Hingga tak terasa Adzan magrib berkumandang, dan akhirnya kita bisa menunaikan puasa seharian penuh meski penuh keluh dan kesah ..” Matamu membesar. Aku merasa makin tersudut, merenggut. Seketika kau terasa begitu memuakan, aku bergegas kea rah dapur mencari sebentuk pekerjaan untuk mengalihkan kekesalan.

 “Ih mama kok makin ngelipet gitu mukanya..” Kau kembali tertawa.

 “Ternyata berat bagaimana masa ngidam itu..” Seketika teringat ibuku sendiri, mengabaikan kelakar yang terdengar. Kini kau terdiam, menyadari tatapunku tidak sedang berada dihadapanmu.

 “Itulah bagaimana tangguhnya seorang ibu, hingga syurga ada ditelapak kakinya. Jejaknya takkan pernah terbalas oleh anak-anaknya, dan sungguh kita lihat bagaimana bnaik-buruknya suatu lingkungan ditengah masyarakat sangat terpengaruh para wanitanya, ibu-ibunya” Kau serius, matamu menajam, kembali memperhatikanku. Meski baumu tetap memuakan ku hirup, secara mental rasanya kini lebih siap, sangat kuat.

 “Sayangku, berbahagialah. Kalian para manusia mulia, yang begitu lembut menjaga amanah dari Sang Pencipta, hingga menyimpannya didalam tubuhnya sendiri, tepatnya rahimnya sendiri. Ibaratnya kalian berpuasa selama Sembilan bulan penuh yang tidak bisa berbuka sebagaimana berpuasanya laki-laki” Katamu lirih, namun membara, penuh semangat.

 “Bagaimana bisa begitu?” Aku heran, argumennya kembali aneh di penalaranku.

 “Iyalah Mah, kalo yang puasa bisa membatalkan puasanya kapan saja. Sedang ibu hamil itu nggak sebelum melahirkan.” Kau sejenak menarik napas panjang.

 “Apa pernah kita lihat? Ada seorang ibu menaruh sementara janin diperutnya karena hendak nyuci seabreg pakaian misalnya?” Kau tertawa, sedang kau hanya tersenyum saja membayangkannya. ‘Emangnya ransel? Bisa di taruh-taruh sekehendak hati?’.

 “Hahaha, ada ada aj ih. Konyol!” Aku menepuk pundakmu seketika, tapi segera ingin menjauh kembali. Bau tubuhmu kembali menyengat. Tapi kau hanya tertawa kecil melihatku.

 “Yang paling lucu itu katanya saat perut ibu hamil sudah sebegitu membesar Mah. Mereka tidak dapat tertidur tengkurap dan berbalik-balik, karena beratnya berbadan dua. Mirip kura kura yang terjatuh terlentang hingga sulit kembali merayap. Haha..!”

#Tsabita, doa seorang ibu