[^__^] Assalamualaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh [^__^]

Selasa, 28 Maret 2017

SENYAMAN RAHIMNYA

 Sayang, kurasakan kini lautan angkasa betabur cahaya, menghangat hingga kejiwa, demi untuk terus tersenyum akan segala nikmat-Nya yang tiada terkira.

Wajahmu selalu terbayang, bagaimana kau kini tengah menyusuri jalur-jalur pijakan manusia untuk menjalani jodoh takdirnya sendiri. Juga janin di perutku kini, aku hanya dapat membelainya meski tersekat kulit-kulit yang begitu canggihnya melentur dan melindungi apa-apa yang ada didalamnya.

 Sayang, mungkin kini kau pun begitu ceria menikmati deburan cahaya mentari, semoga. Sambil terus berusaha menekan sifat jumawa yang kau lukiskan begitu berbahaya, hingga akhirnya ditemukan dengan sifat mensahaja yang melukis senyum teduh kita semua.

Sayang, tulang bokongku kini terasa makin pegal saja. Seiring badanku yang makin membesar, sekarang janin didalamnya aktif sekali bergerak-gerak. Kau tahu? Setiap kali jabang bayi didalam rahimku ini bergerak-gerak, sekan menjadi satu keasyikan tersendiri, serasa hidup begitu manis dan tidak sesepi saat kita terpisah karena suatu urusan yang memang mesti memisahkan kita. Sungguh, katamu saat itu benar-benar terasa begitu nyata; bagaimana istimewanya hubungan jabang bayi didalam rahim dengan ibunya, seakan jiwa kami memang berpadu dalam satu kesatuan merasakan segala kenyataan yang dilalui ditiap harinya.

 “Ajaib!” Sebagaimana yang kau bilang tempo hari. Ini tanda kebesaran dari Sang Pencipta bagaimana Ia menghidupkan seonggok daging hingga kemudian menjadi manusia yang nyata. Dan ajaibnya, janin didalam perutku ini seakan mengerti bagaimana rupa rasa yang tengah kualami disetiap harinya. Kau tahu? Tadi aku terpeleset dijamban hingga terduduk, rasanya sakit sekali.

 Maaf sayang, memang sengaja ku tidak memberi tahu langsung disaat kejadian. Aku tidak ingin mengganggu pekerjaanmu, dan saat itu aku selalu ingat bagaimana perkataanmu; bahwa segala sesuatu telah Ia tetapkan, telah Ia putuskan, dan keyakinan perlahan tumbuh sejak kejadian tadi. Jika memang kita sanggup dengan titipannya; kita benar-benar akan diditipi amanahNya, termasuk seorang buah hati untuk kita.

Hanya saja, para tetangga begitu panic menyaksikanku terjatuh hingga terduduk dijamban, kebetulan air dijamban kamar kita kering, dan terpaksa ku ikut mengantri disumur umum dekat Pak Haji pemilik kontrakan kita.

Macam-macam bagaimana para tetangga berkata-kata dengan kejadian tadi. Ada yang makin membuatku panik, ada yang membuatku tenang, ada yang menyarankan ini-itu. Macam-macam saja, hingga akhirnya mereka mempertanyakan keberadaanmu. "Kok tega sih? Istrinya sedang hamil besar begini, malah ditinggal-tinggal. Bahkan hingga berhari-hari?!".

"Lalu bagaimana lagi bu, wong udah jalan rezky begitu" Jawabku merangkum pertanyaan ibu-ibu yang berbicara begitu cepat, tidak lupa ku campur seulas senyum agar suasana tetap teduh.

"Kalo wiraswasta kan bisa kerja semau kita ?" Ibu ahmad, istri Pak Haji kali ini angkat bicara. Tapi sayang, kali ini aku tak bisa membelamu lagi, meski sebatas pandangan ibu-ibu tetangga terhadapmu, maaf.

 Sayang, sebagai istri aku merasa gagal melindungi nama baikmu diluar. Masih dapat kuingat bagaimana analogimu tentang peran seorang istri terhadap suaminya; yakni bagai pakaian yang melindungimu dari panas dan dingin, dan yang terpenting adalah menutup aurat. Tapi, bedebat dengan mereka pun belum tentu membawa kebaikan. Untuk itulah hanya dapat terdiam saja mendengarkan pendapat mereka, menunggu mereka terdiam dan berlalu sepenuhnya.

 Namun aku sedapat mungkin ingin terus memeluk sebongkah pesanmu akan doa, akan langit yang sama disetiap masa. Langit yang Ia tinggikan tanpa tiang, langit yang menghancurkan semboyan jumawa dalam tabir pencitraan karisma, maupun hunistik yang semua. Hingga akhirnya kita bertemu dimuara; segala puja dan puji hanya layak bagi-Nya, Rabb semesta alam.

 Sayang, janin kita bergerak gerak begitu girang didalam sini, saat terbayang bagaimana wajahmu selalu mengingatkan akan sifat Rahim-Nya. Terima kasih.

#Tsabita, doa seorang ibu