[^__^] Assalamualaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh [^__^]

Jumat, 24 Februari 2017

Senja Bersama Angin-Nya

...
   Anak bunga dendalion terbang berarak menunggangi semilir angin sore ini, ceria bertelekan tawa, riang bermandikan mentari senja yang merona dari kesilapan mata akan cahaya.

   Bermula dari satu bunga yang sama, akhirnya anak dendalion itu terpisahkan juga, karena kini angin senja mengaburkan kebersamaan dengan sifatnya yang senantiasa mengejar hawa panas pada setiap ruang yang terisi udara.

   "Melawan ketetapan, bagai anak-anak dendalion itu, sebatas jiwa yang dapat melawan, namun akhirnya jasad tiada daya terseret sekendak hembusan angin" Aku coba melerai sendu, meski sebenarnya ucapan itu lebih menegaskan diriku sendiri.

   "Lalu apa salah, bila air mata ini tertumpah? Bila mampu, sungguh ingin semuanya tertumpah diatas sajadah disepertiga malam yang sering kau ucapkan" Kali ini kau menyela. Dan aku mengerti, kau tengah berusaha tetap kuat, ingin tetap terlihat kuat, sedikitpun tidak ingin dikasihani.

   "Maaf. Aku memang tidak seperti yang kau harap, tidak sebagaimana yang kau rindukan" Tangismu mulai nyata, sesenggukan ikut menyenggal nafas, berat bergemuruh hingga kata sedikit keruh ku dengar.

   "Hey, ada apa denganmu?" Seketika dadaku ikut terguncang,

   "Salahkan dengan kisah anak dendalion yang terburai angin senja ini?" Aku segera merengkuh pundakmu, berusaha meredakan tangis.

   "Jangan kau kira bagaimana peka seorang wanita yang lebih dari sepuluh tahun ini menemanimu. Aku sangat hafal, kau menyesali akan sikapku saat itu, hingga kalian terpisah dengan terpaksa, bahkan sebelum tujuan mulai meniti langkah" tangismu mereda, seketika terganti penegasan lainnyang menghuni rongga dadamu.

   "Sudahlah, semua sudah terjadi. Dan kejadian ini sebenarnya menyadarkanku, bagaimana tulusnya kasih sayangmu. Kau rela tersalahkan karena mengingat peluang kami menuju neraka terbuka lebar" Ku ingin segera membenarkan, sangat setuju.

   "Mengertikah, sebenarnya aku hanya menyesali keburukanku sendiri, yang begitu mudahnya muncul. Dan syukurku adalah dinampakan dengan perantaraanmu. Kau tahu? Itulah pakaian sesungguhnya, yang rapat menutupi aurat dan semua aibku"-

   "Terima kasih" Aku lihat kau makin cantik, seiring kulihat keburukanku sendiri yang kembali membayang.

   Dan kini, akhirnya kita lihat beberapa dari anak dendalion yang terhempas angin mulai membumi, tumbuh mendewasa, dan bersiap menerbangkan banyak anak anak keangkasa.

   "Segala puja dan puji memang selayaknya hanya bagi Alloh, yang Mengatur, Mengurus dan Mempersiapkan untuk ciptaanNya dengan Maha Bijaksana" Kaupun kini tersenyum begitu manis, hingga mentari malu lalu tenggelam karena iri padaku yang telah Sang Penyayang pasangkan denganmu.

   Dan spenuhnya aku menyadari, bagaimana kita berkewajiban untuk senantiasa bersyukur dan menyungkur meminta ampun pada Ia Yang Maha lembut mengatur semua ini.

#jejak_para_kekasih
_Bdg_24022017