[^__^] Assalamualaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh [^__^]

Selasa, 28 Februari 2017

Ratap perpecahan dalam tubuh kenyataan


   Malam menghening menuju pagi, mendekap naluri akan pesonanya yang memikat jiwa. Lelah dan semua penat, menempati pusara. Terlelap hingga gaduh terbangun kembali.

   "Namun apa yang hendak dilaku?" Kau kembali tersenyum, selalu saja bertanya disaat ku menikmati saat seperti ini.

   "Tolong, biarkan aku sejenak merebah. Semoga di lain kesempatan, kau dapati ku dapat menjawabnya" aku coba berpaling dari matanya, tapi sia sia.

   "Tidakkah kau dapat sejenak tenang mensyukurinya?" Kau kembali mengusik, serta merta suara begitu jelas menghujam pendengaran. Dan aku hanya dapat memaksa menahan laju pandangmu yang tak tertutup pejam mata, tapi tetap sia-sia.

"Kau tahu, aku selalu inginkan begitu" Aku menyerah, tidak dapat mengelak.

"Lalu, apa yang hendak dilaku?" Kembali kau menoreh sembilu, seperti sebelumnya.

"Entahlah!" Aku menyerah, memuntahkan semua emosi yang kujaga sedari tadi.

"Bukankah kau menunggu saat seperti ini untuk berbicara denganku? Lalu kanapa kau marah padaku?" Ia kulihat terpekur, kita sama menemukan satu titik yang sama. Bingung, tertahan di ruang dan waktu yang terus berlari.

"Bodoh, harusnya kita selalu ingat; sesama hasil ciptaan tidak berdaya menepuk hancur yang menjadi tujuannya.

"Jadi sekarang apa yang akan dilaku?" Kulihat kini pandangmu menatap lurus kedepan, namun tidak bersepang lama, perlahan turun menukik pijakan.

"Itulah, kau terus menyiksaku. Terus bertanya apa yang dapat kulakukan tanpa memberiku suatu tujuan" Aku ikut menatap apa yang sedang kau tatapi.

"Tapi bukankah kita punya satu keinginan yang sama?" Aku kira kau berkata dengan memeriksa air muka ku, ternyata kau memilih tetap menatap ke bawah.

"Apa?" Aku menoleh seketika, tapi kau tidak peduli, kau masih saja terpekur menatap ke tanah.

"Bahagia?" Kau terperangah, seketika mengangkat wajah.

"Awalnya begitu, namun nalarku kembali bertanya; bahagia untuk apa?" Seketika tumpuanku lemah, kata yang kian lama terpendam akhirnya ia kembali dapati.

"Itulah tujuanmu, kau kini terobsesi memhami bahagia. Disaat ku sangka kau tengah melangkah menjalani jalur-jalurnya" Kau ikut terduduk bersamaku, kini kita hanya dapat menghela nafas. Menyandar berdua pada heningnya, pada malam waktu.

"Lalu kenapa kau terus menemaniku? Kini ku dapati matamu tengah menatapku, teduh namun ku balasi penuh kewaspadaan.

"Karena aku sebatas kakimu, sedang kau nyatanya mataku. Kebersamaan ini, adalah satu bukti kesepakatan kita dengan Sang Raja, disaat kita belum dipersatukan. Dan kini, saat ini, kita telah dipersatukan dalam satu kenyataan" seketika kau merintih, membuat ku tak kuasa menepis malang yang membayang.

Kini nyatanya kita adalah sebatas kita; yang hanya dapat merintih dan menangis, hingga pagi berpendar, kembali memaksa untuk terus berlari.

"Cukupkah hanya sebatas kita?" Akhirnya kita kembali bersepakat dalam satu bahasa yang sama. Terperangah, mengangkat muka.

#jejak_para_kekasih