[^__^] Assalamualaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh [^__^]

Rabu, 04 Oktober 2017

Kerlip-Kerlip harapan [1]

1. ["Kak .. ayo kita ke KUA!"]

Adalah jiwa, yang seibarat air yang kerap tercabik arah yang saling berpisah, menjauh ke setiap sudut, disaat gamang terpolosi pandangan yang melukis ambigu, dipanasi amarah lingkungan hingga bergolak, lalu kaku membeku terkecupi sepi, hingga keras mengkristal.

Hingga jalan sunyi seorang musafir bertaburan hujan, menuntun wajah menengadahi langit, meski kelam, arah dari langit berbalik, menderma, menunggangi riang bersama rinai; mengusir sendu selepas malam, mengingatkan diri akan akhir sebuah arah adalah tanah, sedang awalnya adalah langit, sedang tanah pun melayangi langit berlintasan sesuai hukumNya.

Adalah langit memberi arah dengan jatuhnya rintik air, namun sering tidak terpikir hanya karena nalar berkata akan langit yang tak mungkin tertempuh, selain hujan yang menghujaminya dari atas untuk menyungkur, bertutur, akan tanah yang kelak memeluki jasad, membebaskan jiwa dari sangkarnya, menuju tempat dimana pengutus hujan menjelaskan sejarah, menjelaskan hitam putih sekian langkah.

Dihadapan, pepohonan terpasungi tanah, yang rimbun rapat daunnya menaungi penginapan, tenang berpijak pondasi yang menghujam kuat, menopang bangunan berjuta system kehidupan tinggkat tinggi, yang menaungi tegang pemikiran sesiapa yang coba mempelajarinya, bahkan lintasan gambaran para penghuninya, tulus berdiam diri menjelaskan kaidah agung penciptaan kehidupan dalam dunia, yang hampir seluruhnya mengurusi sebatas angan dan kenangan para manusia. Sedang jalan kenyataan keras menerkam, mereguki rinai-rinai air mata yang memijak genang kubangnya, coba mengisi kekosongan lubang-lubang zaman yang terus berjalan.

Adalah jiwa, adakalanya enggan melembut meski sekedar menadahi keluhan. Kerap senyaman dipan bangsawan yang melelapkan dengan nyaman, hingga kasar menampari pipi anak-anak jalanan, yang sesaat terjengkang, memburu jalang. Juga kerap serupa etalase, demi menampilkan nilai tertinggi hingga merendahkan citarasa, menulari bingung yang tuna arahan. Kita semua pun kerap tak ramah, ganas bagi orang papa, menelikung di awam pekerti, merumitkan bahasa. Sebagaimana manusia macam Ardhi, yang terpecah jiwa, entah pun pekerti, kini tersasar arah-arah harapan. Kenyataan kini memaksanya merenung, akan sebuah losmen merah muda yang kini tersisa guna melabuhkan penat sepanjang perjalanan.

"Kak, tunggulah hingga hujan reda," Sebuah tangan halus mencegahnya pergi, kukuh kuat mencengkram pergelangam tangan kanannya.

"Maaf, takkan kuat ku berdiam diri denganmu, yang membuatku terbakar, tanpa sempat bergolak dan menguap, hanya karena terkecupi panas ghairah itu," Ardhi terpekur hingga berubah-ubah pikiran, terjebak gamang, antara gairah dan kasih sayang, sejak menatap wanita dihadapannya.

"Namun kau akan hancur berderai saat terbekui sepi," Pemilik telapak tangan halus itu masih enggan melepaskan lengan pemuda itu, lalu mulai terisaki luap-luapan perasaannya. Dirinya merasa hidup kembali, merasakan tatap penuh kasih sayang serupa ayahnya di kampung halaman.

"Namun semua ada aturannya, tidak cukup sebatas pengakuan cinta kita berdua" Pemuda dengan tenang mencoba tampil lebih dewasa, sedang dadanya bergemuruh, memukul-mukul nurani agar takluk demi tuntutan jasad terkunci gairah.

"Kak .. ayo kita ke KUA!" Seketika saja kalimat keputusan meluncur cepat tanpa sempat terpikir.

"Eh, Skarang ?!" Seorang pemuda membelakak terkageti keputusan wanita yang baru ia kenal semalam di lokalisasi tunasusila.Dadanya kian bergemuruh, turun naik napasnya.

"Becanda ..," Dengan manis wanita itu tertawa kecil.

#kerlip-kerlip harapan
ar, 29agustus2017