[^__^] Assalamualaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh [^__^]

Rabu, 04 Oktober 2017

Kerlip-kerlip Harapan [10]

10. Mengumpat Penat

"Ikuti remaja yang baru saja keluar dari ruangan ini, segera!"
Belum juga lama seorang pria bertubuh tegap itu masuk, tapi dirinya harus kembali keluar, ketika majikannya memerintah dengan panik, lalu tanpa berkata sepatah katapun segera pergi melaksanalan perintah.

Sebagai orang nomor satu di losmen merah, seorang wanita paruh baya merasa bisa melakukan segalanya, kecuali terhadap anak kandungnya sendiri dan Airin. Momi tidak tahu apa sebenarnya yang merubah sikap kedua anak muda itu akhir-akhir ini. Harga dirinya sungguh terasa seperti dihinakan, yakni harga diri sebagai penguasa losmen merah.

Terlebih dengan Rendi, anak semata wayang yang sangat ia manjakan dan banggakan itu, telah berubah menjadi anak urakan yang setiap malam hanya menghabiskan banyak uang bersama teman-temannya, saat mengetahui profesi sebenarnya, yang telah kian lama ia tutupi dengan papan usaha ‘Penginapan Losmen Merah’, dan disaat sejumlah uang tidak dapat terpenuhi, Rendi malah berani mengancam ibunya sendiri untuk melaporkan segala rahasia terselubung Losmen Merah langsung kepada polisi.

Sedang Airin, dimata Momi tidak lebih dari seorang penghianat, karena tiba-tiba saja memutuskan untuk tidak bekerja di losmen, entahlah dia mangkal sendiri di jalanan, atau mungkin pulang ke kampung halaman Airin sendiri, yang pasti, Momi akan terus mencari hingga dapat dan menyeretnya kembali untuk bekerja bersamanya, bagaimana pun caranya.

“Tidak boleh seperti ini!” Bibir sensual itu mengumpat sendiri didalam ruang pribadinya, sebuah ruangan paling mewah yang terletak di lantai paling atas. Lalu segera wanita paruh baya itu menyalakan sebatang rokok dan menghisapnya dalam-dalam. Tubuh Momi seketika menyender di ujung kursi sofa polos dengan warna keemasan. Pikirannya benar-benar tidak karuan, terus saja dihantui kemungkinan kembali hidup miskin. Suatu kehidupan yang dipikirnya begitu pahit dan terhina diantara semua manusia yang pernah dikenalnya, termasuk keluarga besarnya di kampung.

Hingga berbagai pikirannya buyar ketika pintu diketuk dari luar, “masuk!” ucapnya membalas sebuah ketukan di pintu masuk ruangannya, Momi lalu bangkit terduduk. Hingga tidak lama kemudian pintu dihadapannya terbuka, menampilkan sesosok pria bertubuh atletis mengulas senyum.

“Ah kamu rupanya, sini masuk sayang!, dan kunci pintunya,” Suara Momi cepat, membalas senyum. Seluruh tubuhnya mulai menghangat terpercik syahwat, ketika mendapati mata pejantan itu kini begitu dekat ke wajah Momi. Tatapan mata pemuda itu tajam menghujam, menelanjangi setiap inci dirinya hingga lupa diri.

***

Malam kian larut, yang dengan desir-desiran kelembutan anginnya membawa hawa dingin begitu apik, membuat Airin makin merapatkan jaket bertudung longgar guna menghangatkan tubuh, sedang telapak kaki hingga betisnya yang mulus seperti digeranyangi dengan balok-balok es yang dingin. Berkali-kali lututnya bergetar, menggigil, namun matanya terus saja menatap Ardhi yang kini telah mulai mendapat balasan respon bersahabat dari remaja yang baru diketahuinya bernama Rendi. Seorang remaja yang sebelumnya nekat seperti kesetanan untuk bunuh diri itu, kini mulai menerima kepedulian Ardhi, dengan ikatan batin sesama yang Ardhi angga sebagai seorang teman. “pastilah Ardhi seorang pemuda terpelajar,” pikir Airin seketika.

“Oh iya Rend, kalo mau kita bisa bermalam disini, dipojokan teras mesjid ini.. tapi sebelumnya saya antarkan dulu Airin pulang, ok?” Mata Ardhi kini beralih memandang Airin, meminta persetujuan. Tapi perempuan yang dilihatnya justru menggelengkan kepala, membuat Ardhi heran.
“Eh knapa Rin?” Ardhi terheran-heran seketika.
“Enggak ah, males!” Airin menjawab dengan gusar, tidak mempu mereka-reka alasannya sendiri.
“Eh daripada kedinginan disini, mending kalian nginep dirumahku saja, gimana?” Tidak lama kemudian Rendi ikut menjajakan usulannya.
”Hah?! Ardhi dan Airin serentak menanggapi tawaran Rendi bersamaan.
“Tenang aja, aman kok kalian mau ngapain aja di rumah, karena pastinya Mom nggak ada, biasalah dia emang sering menghabiskan malamnya di tempat usaha penginapannya,” Rendi dengan santai meneruskan tawarannya. Mendengar, tiba-tiba Ardhi mulai merasa pelik sendiri, hingga pikirannya kembali mengingat kedai buah yang tidak jauh dari tempatnya kini.
“Eh mending kalian ikut saya ke kedai buah! selain disana tempatnya asik, pemiliknya juga asik diajak ngobrol, saya suka sengaja ke sana setiap kali penat, gimana?” Mendengarnya Rendi hanya mengangguk singkat, sedang Airin tetap terdiam. Tangan Ardhi kini mulai merogoh kesaku celana kasarnya sendiri, karena melihat wajah kedua temannya itu menyiratkan tanda setuju.

Tidak lama kemudian, Ardhi mengeluarkan sebuah ponsel di saku celana jeansnya, lalu seketika tersenyum, setelah menerima balasan pesan yang sbelumnya ia ketik dengan cepat. Terpikir olehnya, bahwa kedua temennya itu pasti akan menyukai kisah-kisah hikmah yang nantinya pasti diceritakan, sebagaimana yang Ardhi dapati saat mulai mengenal dan mengobrol dengan Mang Eman di kedai buah-buahan.

#kerlip-kerlip harapan
Ar, 19 September 2017