[^__^] Assalamualaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh [^__^]

Rabu, 04 Oktober 2017

Kerlip-kerlip Harapan [17]

17. Belah Latah Patah Patah

Ardhi tertegun selalu, setiap kali ia memasuki mesjid. Nuansa dan rasa terhadap diri, seperti ditiupkan dengan bahan dan cara berbeda, unik, eksklusif, dan pas dengan apa yang diingini jiwa dan raga itu sendiri. Bila itu sebuah persuafif disiplin ilmu, ilmu apakah hingga seutama itu? Bila itu sekedar persuasif adat dan budaya, budaya apakah hingga menyelaras setiap manusia?. Mustahil tiada cela, jika syariat sebatas tata dan krama yang dirumuskan manusia: sebagaimana tesis para pemikir dunia, yang selalu berujung antitesis hingga dialeksis; lalu memunculkan tesis berikutnya, seiring perubahan perilaku kehidupan itu sendiri.

Terduduk, kaku jasad Ardhi di selepas salam. Terpekur demi merasakan nyamannya tarikan suana dalam mesjid; yang ia umpamakan serupa hujan. Dirinya menyerah akan kuat dan melimpahnya kenikmatan jiwa, yang meresap meneduhkan, hingga ke nalar maupun rasa. Tapi entah perasaan apakah ini, jika memang tertangkap oleh indra perasa. Dan entah pemahaman apa, jika pun ini sebatas tenadah pemikiran. “Ah entahlah,” Batin Ardhi dalam posisi duduk bersila, dirinya sungguh tidak bisa menyebutkan pasti, tentang apa yang dirasainya. Ia hanya mampu menyesap, dan terus menyesap; akan kenikmatan yang ia anggap oase paling nyata di rimba dunia. Hingga terlupa urusannya di dunia; yang berisi kecemburuan, kekecewaan, impian, bahkan hak-hak dan kewajibannya hidup di dunia.

“Nampaknya Ujang* ini bukan orang sini ya?” Sebuah suara bijak seketika membuyarkan keterpekuran Ardhi, membuat segala pikiran dan perasaan abstrak di dalam dirinya sirna. Sebuah kekuatan memaksanya kembali menapaki rasionalitas dunia, atas kehadiran seorang tua yang menyapanya kini.

“Oh, iya pak,” Jawab Ardhi singkat seraya mengangguk dan tersenyum. Dilihatnya seorang tua yang tidak dikenalnya itu kini ikut duduk di sebelah kanan Ardhi dengan rapat. Namun pemilik wajah di sampingnya itu tidak asing di mata Ardhi. Bahkan dirinya merasa hangat dan dekat dengan kehadirannya, seakan jalinan keintiman sepasang sahabat yang tertutup oleh suatu perpisahan di masa lalu. Lalu Ardhi segera menyambut ke dua tangan yang terjulur itu untuk berjabat, tangan dari pemilik wajah teduh, nan berseri.

“Ujang datang darimana?”
“Dari Kota Baru Pak,”
“Dari kota baru?
“Iya Pak,”
“Ah Kota Baru, kota yang mungkin telah melupakan ketakutan Kota Lama..”
“Maksudnya?” Ardhi tidak mengerti, menatapkan matanya lebih lekat.
“Kerap segala harapan itu takkan mewujud, hanya karena melupakan suatu ketakutan yang menjadi alasannya Ujang* sendiri untuk berharap..”
***

Bunga indah nan merekah itu seketika layu, tercerabut begitu saja hingga akar begitu mudah. Di saat sebuah tangan dengan kasar merenggutnya dari dekapan tanah nan ramah, hangat dan nyaman tempatnya berpijak itu kini luruh tak bersisa, tertiup ditiup angin, mengambang di udara, yang terasa hanya sesak-sakitnya sebuah cengkraman segenggam kekasaran, hingga menghancurkan arti dirinya sebagai sebuah bunga yang mulai mekar dan mengharum. Airin masih terkesiap dengan kehadiran seorang lelaki yang telah begitu dikenalinya itu, lelaki yang di ketahui lebih sebagai eksekutor pembunuh suruhannya Momi. Setelah mendorongnya hingga terjengkang, Airin kian bertambah panik dan takut ketika dengan cepat sebuah tangan lebar lelaki itu segera mencekiknya hingga tidak bisa menjerit. Pintu telah di tutupnya, dan lelaki itu dapat berbuat apa saja terhadap Airin.

#kerlip-kerlip harapan
Ar, 1 okt 2017