[^__^] Assalamualaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh [^__^]

Rabu, 04 Oktober 2017

Kerlip-kerlip Harapan [14]

14. Alas Beton Bebal Rotan

Hingga lelah menyusuri jalan-jalan perkotaan, Ratna tidak juga dapat menghilangkan perasaan gamang dalam hatinya. Sejak kematian Johan, kekasihnya itu, bukan rasa kehilangan yang ia sadari membuat perasaan jiwanya berubah, tapi rasa penat begitu menyiksa untuk terus berdiam diri di dalam losmen merah. Meski pun segala kebutuhan fisiknya terjamin di sana, tapi kini tiada seorang pun yang dapat di ajak serta untuk melarikan segala kebosanan dalam hidupnya. Tempat itu sudah tidak lagi terasa nyaman, bahkan menakutkan dengan kematian Johan yang begitu misterius, CCTV yang terpasang di setiap sudut koridornya tidak menjamin keamanan, karena pembunuhan itu justru terjadi di ruang pribadi yang tidak dipasangi CCTV.

“Adakah suatu tempat yang tenang dan nyaman di dunia yang makin bobrok ini?” Keluhnya, berpikir dunia telah terjerumus pada kegilaan yang disemarakkan, yang dipopulerkan, hingga kejahatan begitu rapih terbungkus suatu kebaikan sosial pada zahirnya. “Hah.. bahkan aku sendiri begitu menikmatinya,”. Ratna kian terpekur, merasakan asing dengan dirinya sendiri. Siang kian menerik, membuat langkah seorang perempuan muda itu sedikit limbung. Tidak ada makanan maupun air yang ia masukan kepada perutnya sejak pagi, membuat tubuh itu kini menagih hak akan asupannya. Ketika dilihatnya sauatu taman di kejauhan, segera saja ia menyambangi bangku taman yang disengajakan ada untuk berteduh. Dengan melepas napas panjang, ia segera menikmati keteduhan di payung rimunan pohon sukun, lalu menghirup udara segar dalam-dalam.

“Lihat Kak, kita dapat banyak siang ini!”
Terdengar nyaring suara seorang gadis kecil ke telinga Ratna, seketika ia menoleh, dilihatnya tidak jauh di sisi kanan telah nampak dua gadis kecil duduk menyandar ke sebuah pohon beringin yang cukup besar, mereka nampak sebaya antara yang satu dengan lainnya.

“Iya, dengan begini kita bisa makan enak di warteg,” Bocah yang satunya menimpali, cukup lama Ratna memandangi mereka berdua, hingga salah seorang menyadari tengah diamati seorang perempuan dewasa, keduanya segera beranjak pergi, menjauh.

“Alangkah lepasnya pikiran mereka,” Batin Ratna berbisik sendiri dengan iri, teringat kembali bagaimana masa kecilnya sendiri saat di kampung. Bermain dengan bebas bersama teman-teman, hingga sesekali ibunda menyusul karena bermain hingga lupa waktu, lupa makan dan melupakan segalanya, kecuali bermain bersama teman sebayanya. Ratna tersenyum sendiri mengingat ke masa silam itu, masa dimana gairah hidup terasa begitu cerah, dan mudah.

“Sekarang kau yang jadi sering melamun,” Sebuah suara tetiba membuat Ratna mendongak, dilihatnya kini telah berdiri seorang perempuan cantik berambut sebahu tengah tersenyum, menatap tajam seperti mengejak, dengan menyilangkan kedua tangan ke atas dada.

“Airin?!”
Seketika terlonjak, teman yang telah putus asa dicarinya sejak minggu terakhir kini tiba-tiba muncul di hadapan. Wajahnya kian cerah, lebih bersinar daripada saat terakhir kali berembuk di losmen merah. Hingga perempuan itu ikut duduk di samping kanannya, Airin masih belum surut dari senyumannya, begitu pun Ratna, dari keterkejutannya.

“Bagimana kabar Bos cantik kita di losmen? Apakah masih terus mencari keberadaan saya?” Airin langsung bertanya, tanpa sempat menanyakan keadaan teman dihadapannya.

“Mmm.. bagaimana jika kita ngobrolnya di Rumah Makan padang?” Ratna seketika penuh semangat, dan demi mendegarnya, Airin hanya tertawa saja
***

Momi kian gelisah sejak anak buahnya memberi tahu bahwa Johan di temukan telah meninggal di ruang pribadinya sendiri. Masih sangat diingatnya saat terakhir kali kakinya sendiri yang menginjak-nginjak lelaki malang itu, tapi tidak bermaksud membunuhnya. Ia yakin Johan hanya memar, karena dilihatnya sendiri lelaki itu masih bernapas saat dirinya hendak pergi, masih bernapas meski terkapar. Ah polisi pasti takkan mungkin mengejar, jika tidak ada yang melapor, sedang Johan sendiri tidak jelas indentitasnya.

“Mom sudah pulang?” Seketika suara menggema di seisi ruang tamu yang luas. Momi lihat, Rendi tengah berdiri memandangnya dengan tajam, “dia masih marah rupanya,” bisik Momi dalam hatinya sendiri.

“Kemana saja Rend? Mom hingga khawatir kau tidak pulang semalaman,”
Momi menyahut lembut, mengerti basa-basi dari anaknya yang sama sekali bertanya tanpa butuh jawaban. Bagaimanapun, dialah anaknya, seketika terbit kasih sayang sebagai seorang ibu terhadapanya, teringat kembali bagaimana ia mengandung dan melahirkannya dengan susah payah, buah hatinya, darah dagingnya sendiri, selalu ingin membuatnya nyaman, tidak kurang sesuatu apapun, kenyataan sungguh berbeda, nyatanya anaknya itu tidak memahami perasaan kasih sayangnya, hanya karena tidak dapat mengerti kenyataan tentang ketidak jelasan ayahnya?, “rendi malu Mom, teman disekolah selalu mengejekku sebagai anak nggak berayah,” Momi teringat kembali saat anaknya dulu selalu terbuka terhadapnya, tapi sekarang sangat berbalik jauh. Momi menatap sayu sikap anaknya yang kian tertutup dan urakan. Tapi bagaimana lagi? Semua ini sebatas cara kita bertahan hidup, tidak lebih! Dalam diam Momi terus berusaha menguatkan hatinya sendiri. Dipandanginya terus anak semata wayangnya itu hingga berlalu di balik pintu kamar, tanpa menjawabnya sepatah katapun.

“Momi, kita harus bicara!”
Seketika suara tegap bergema, tanpa salam atau permisi. Momi segera menoleh ke arah sumber suara dari pintu depan, lalu dengan cepat telunjuknya dipalangknanya di dedepan bibir, seraya mendekat. “Ada anak saya sedang istirahat di kamar, sebaiknya kita ngobrol di losmen saja,” bisiknya langsung ke telinga seorang pemuda tegap berjaket kulit hitam yang baru saja datang, lalu ia segera menarik lelaki itu garasi mobil, setelah di pastikannya Rendi benar-benar tidak melihat dirinya dan lelaki itu.

Tapi tanpa mereka ketahui, rendi menatap mereka berdua dengan tajam di balik lubang kunci. “Mom, sebenarnya siapa lelaki itu? Lelaki yang membuat kita menjadi seperti ini? apakah dia telah jahat? Jika begitu, suatu saat pasti lelaki itu akan saya serahkan lehernya sebagai kado terindah, atau apapun, demi kembalinya senyum itu, senyum yang benar-benar bersinar seperti dulu,” bisiknya. Kali ini ia membuka pintu, mengejar hingga ambang pintu, dengan terus mengikat pandang pada seorang lelaki yang sudah dihafalnya sejak setahhun terakhir itu, kini memasuki mobil Jeep hitam bersama ibunya, hingga keduanya melaju dan tersilap pagar tinggi di batas teras depan rumah.
***

“Bagaimana bisa?”
Ratna membantin sendiri, “bagaimana bisa? Kini semuanya terlihat menjijikan?” Matanya nanar memerhatikan dirinya sendiri yang segar jelita, tengah memandanginya tajam di balik cermin, yang memantulkan kecantikan tubuhnya sejak wajah hinga dada di bawah temaram anggun lampu kamarnya di losmen merah.

Hingga terbayang seketika, bagaimana perkataan Airin sejak terakhir bertemu di rumah makan sebelah barat taman kota saat itu.“Pipi ini, hingga kapan kulitnya terus kencang? Hingga tangan tegap dan kekar itu dengan senang hati mau melindunginya? Bibir ini, hingga kapan kan terus di buru oleh setiap lelaki yan datang beralaskan penat dan letih atau sekedar mengusir sepi, patah hati, bahkan akumulasi dendam yang membentuk libido tidak wajar seperti penjahat kelamin umumnya? Hingga kapan kita dapat terus menjual tubuh muda kita? Apa segala upah itu benar-baenr menjamin kehidupan kita?”

Hingga kapan Airin?
, bisiknya sendiri. Ratna tanpa sadar mulutnya bergerak sendiri sendiri.

“Hingga kapan?” Suara berat berwibawa memecahkan ketermenungan perempuan muda di hadapannya. Cukup lama dirinya menunggu sosok cantik itu melamun di depan cermin. Lalu melangkah mendekat karena tidak sabar, langsung melingkarkan kedua tangannya ke pinggang Ratna dari belakang.

“Tentu saja hingga kita puas sayang,” Ratna hanya tersenyum lemah ketika lelaki itu kembali berkata dengan suara serak di dekat telinganya. Lalu tanpa berkata lagi keduanya bangkit mendekat ke ujung ranjang.

#kerlip-kerlip harapan
Ar, 27 September 2017