[^__^] Assalamualaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh [^__^]

Rabu, 04 Oktober 2017

Kerlip-kerlip Harapan [3]

3. Riak-riak Pagi

*i
Bagaimana menurutmu? Jika ada seseorang menghancurkan sebuah harapan seseorang? Hingga terjerumus pada kekelaman yang sebelumnya begitu ia benci, lalu berhenti berjalan dalam medan perlawanan meski untuk kebaikannya sendiri? menyisakan perenungan-perenungannya sendirinya yang rapuh, butuh kehidupan sebagai seorang manusia.
Ego diri terlihat disini, sedang sekitarnya tidak menyukai keakuanku. Namun untuk yang satu ini, nalar pun ikut berkata dengan pihak uang tidak menykainya itu. Lalu dengan kesadaran penuh, pukulam itu selalu kembali pada dirinya sendiri, selalu kembali menyalahan dirinya sendiri. Suatu kecacatan dari seseorang yang tidak bisa melakukan semuanya sendiri.
Persetan semua itu!
*i

Ardhi kembali termanggu, tidak bisa lagi meneruskan tulisannya sendiri.
Dilihatnya, pekarangan taman belakang rumah telah benderang kekuningan, sejak mentari menyngsing, Ardhi telah terpaku bersama embunan yang menutupi segala daun-daun disana. Termenung coba mengingat mimpi semalam yang menurutnya begitu unik, terasa berbeda saat terbangun, namun anehnya tidak dapat sedikitpun untuk diingat kembali.

Asap rokok masih mengalun perlahan dari mulut dan hidungnya, “kerlip-kerlip harapan..” Jemarinya kembali menuliskan kalimat yang terhenti, lalu kembali terdiam. Batinnya sedikit menyesal dengan pikirannya sendiri, karena telah memulai tema yang sungguh sulit bagi dirinya sendiri.

“Haha!” Ardhi terbahak sendiri, setiap hatinya menyebut sebuah ‘harapan’, lalu seketika mulutnya bungkam.

Sementara alunan musik terus mengalir, seakan seluruhnya kini menderas langsung ke relung hati. Mencipta suatu realitas tersendiri dalam pikirannya. Namun realitas itu begitu gersang menurutnya.

“Aku ingin sederhana!” Hatinya kembali beriak, untuk kalimat ini urung ia tuliskan di buku catatan yang sedari tadi menetap di pangkuan, namun tetap saja dendam itu enggan pergi.

*i
Setiap pagi, mengapa selalu seperti ini? merasakan iri tanpa mampu melawannya, hingga mengasingkan diri pun enggan meluruhkannya. Mengasingkan diri saat saudara yang lainnya setiap pagi pergi kuliah karena nilai akademisnya yang selalu sangat baik.
Ah ya! Memang salahku, kenapa nilaiku selalu jeblok?! ‘Percuma saja kuliah jika hanya mendulang raport yang hanya membuat malu’ itulah perkataan dari seseorang selalu menjadi idola sejak kecilku.
*i

“Hahaha!”
Ardhi kali ini meledak dalam tawanya sendiri, kini dirinya dapat mengangkat pena dengan puas. Lalu kicauan burung dan semilir angin dirasakannya kembali berkata-kata, riang benderang, seiring pagi yang beranjak siang.

#kerlip-kerlip harapan
ar, 7sept2017