[^__^] Assalamualaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh [^__^]

Rabu, 04 Oktober 2017

Kerlip-kerlip harapan [15]

15. Kambing Hitam

Musim kemarau akhirnya pecah, di sore ini, mendung mengguyurkan airnya, menderas seketika, membasahi jalanan yang padat merayap oleh tumpahan para pekerja yang mengakhiri jam-jam kerjanya hampir berbarengan. Namun tidak lama, seakan tetesan dari awan mendung itu sekedar mewarta saja, bahwa awal musim penghujan di mulai sejak penghabisan siang ini.

Ardhi meminggirkan sepeda motornya di bahu jalan, di sebuah kios kopi, berharap kemacetan sedikit melengang. Selalu saja segan untuk kembali pulang. Setelah memesan segelas kopi hitam, sedikit menghela, coba menenangkan pikiranya yang diakuinya sendiri tidak sehat. “Keadilan, benarkah tidak mungkin dilakukan manusia?” bisiknya. Ardhi benar-benar merasa payah menepis pikiran yang dirasa bak penyakit akut itu. Makin luas matanya menyapu jalanan, malah makin membuat letih hatinya. Memandangi jajaran pertokoan mewah yang menyembunyikan pemukiman kumuh di sempit gang-gang penduduk di belakangnya, kontras sekali.

Di sebalik pemukiman kumuh itulah, Ardhi kerap menyaksikan sendiri, bagaimana teman sekolahnya dulu tidur di teras rumah yang sempit saat malamnya, karena sepetak rumah yang kecil itu di huni tiga kepala keluarga, dan para anak lelaki seperti temannya itu harus rela mengalah dalam hal tempat tidur dengan para penghuni yang perempuan. Memang kini begitu lumrah dengan kenyataan harga tanah dan rumah yang kian tidak terbeli kalangan menengah ke bawah, “dulu, orang jual tanah buat gaya-gayan beli motor, eh sekarang jual motor nggak kebeli tanah barang setumbak saja,” Teringat kembali bagimana Mang Eman pernah menceritakan perubahan nilai rumah tinggal di perkotaan. 

“Dan kamu tahu rumah-rumah yang menjorok ke sungai itu? Banyak diantara penghuni disana awalnya punya lahan tani dan kebun yang luas, tapi habis dijual buat biaya kualiah ataupun umroh, demi meningkatkan taraf hidup, tapi nyatanya? Setelah kuliah malah nganggur, cari kerja kian kemari hingga menghabiskan harta orang tua.” Sambung Mang Eman. Hingga Ardhi teringat saat itu, Mang Eman terus saja menyesapi kopi hitam yang tinggal ampas, saking gemasnya. “Dan yang lebih lucu lagi, ada yang dengan terpaksa menjual sebidang tanah yang subur air artesis ke pada pihak perusahaan air minum, air yang tadinya mencukupi kebutuhan air se-RW, setelah dijual malah ikut ngantri mengambil sedekah perusahan itu untuk sekedar kebutuhan minum. Bayangkan, denga mesin canggih mereka, cadangan hampir satu kampung di sekitarnya tersedot oelh pabrik itu?!” Kembali Mang Eman menyesapi kopi yang sebatas ampas tadi, tambah-tambah kesal saja mengisyahkan. Dan saat itu Ardhi tertawa melihatnya, sedang hati begitu miris.

“Harusnya kau banyak bersyukur!”
Pikiranya seketika beralih ke rumah di mlaam kemarin, saat ayah dengan keras mengata-ngatai saat makan malam bersama, rasanya sesak, seakan di permalukan di adik dan kakaknya sendiri, apalagi sorot-sorot mata itu dilihatnya seperti sinis, memandangi dengan jijik. Ardhi tak habis pikir, bagaimana hingga seperti itu? Apa karena bulan ini tidak ikut menyumbang sedikitpun untuk kebutuhan dapur? Apa karena dianggap paling bodoh karena pendidikannya yang tidak sarjana? “Ah iya bodoh! Aku memang bodoh, kenapa harus menghabiskan upah kerja di jalanan, “sok-so’an jadi orang dermawan sedang dirinya sendiri pas-pasan,” tutup ayahnya saat itu menasehati, hingga berlalu ke teras rumah untuk menyesapi berbatang-batang rokok hingga tengah malam. Mengingatnya Ardhi makin enggan pulang.

“BRUM! BRUMMM!” Seketika suara knalpot motor menggema keras di hadapan Ardhi, memecahkan segala lamunan hinggga membuatnya terperanjat. Matanya memicing ke arah pengendara Bandit 1000cc di hadapannya. Selidik kian selidik, pemiliknya hanya nyengir. Ardhi akhirnya menyadari, siapa pemilik motor boros berisik itu. “Melamun aja woy!” Teriaknya langsung, lalu dengan enteng Rendi membuka helm batok kulit coklatnya itu sambil tertawa.
***

“Anda sekarang benar-benar dalam masalah,”
Sebuah berat penuh tekanan meluncur cepat dari bibir hitamnya setiba Momi berjongkok ke hadapan, untuk menyuguhkan secangkir kopi black coppucino kental sebagaimana pesanannya. Tapi wanita paruh baya yang seksi nan cantik dihadapannya itu tidak langsung menjawab, malah segera merapat ke lengan kanannya dengan manja, lalu dengan seulas senyum, segera saja kepalanya menyender ke bahu bidang nan tegap seraya menyisipkan kedua tangannya melingkari pinggang, membuat dadanya sejenak mengembang, menghela, lalu segera dilepaskan dengan napas panjang, “saya serius!”.

“Saya janji, kejadian itu takkan terulang lagi,”
Momi tetap menghaluskan suaranya. Dengan wajah menyesal, ia mulai merajuk. Sedang tangannya tetap mengusap lembut, bermain-main di sekitar paha hingga melingkar ke tulang ekor, dengan mendesah, mendekatkan bibir ke daun telinga lelaki berwajah keras. Lalu Momi kembali berbisik, “saya sudah siapkan uang pengaman, atau apapun yang tuan inginkan untuk menutup kasus itu atau setidaknya aman bagi saya dan usaha kita ini,”.
“Oh harus! Usaha ini harus tetap berjalan, tentu saja,” Dengan cepat tangan kanannya meraih tengkuk Momi, mendekatkan ke mulutnya. “meski nona yang cantik terpaksa saya serahkan untuk menutup kasus ini.

“Tapi bukan saya pembunuhnya!” Momi menjauhkan wajahnya cepat, wajahnya pias, tidak dapat lagi memaksakan memanis-maniskan mukanya. Tapi lelaki itu malah seperti mengejek mendengarnya.

“HAHA! tenang saja cantik, semua bisa diatur,” Pria itu tertawa seketika, demi melihat wanita dihadapannya memandangnya seperti memelototi setan. Hingga tersenyum, kini giliran tangannya yang bermain-main di tubuh Momi, juga mendekatkan bibirnya seraya berbisik lembut, “nah, sekarang beri saya kambing hitam!”

#kerlip-kerlip harapan
Ar, 28 Sep. 17