[^__^] Assalamualaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh [^__^]

Rabu, 04 Oktober 2017

Kerlip-kerlip Harapan [2]

2. Sekelebat Sunyi

Pagi terasa sunyi. Tiada suara kicau burung-burung gereja bersahutan, langitnya putih mengabu, tapi tidak semendung keadaan hatinya saat ini. Ada sesuatu yang mengganjal sejak beberapa hari terakhir ini, sejak Ardhi mendatangi kamarnya, namun tidak lama pergi setelah meninggalkan uang tanpa menyetubuhinya. Mimik wajah pria yang takut dan gemetar itu, selalu saja terbayang.

Airin menggigil selepas mandi, ia menyambangi balkon berharap mentari untuk menghangti tubuh. Biasanya, mentari yang lebih dulu mendatanginya sewaktu tidur, kamarnya yang terletak di lantai tiga, tegak menghadap ufuk timur, hingga sinarnya yang lembut menyingsing, langsung menerpa dipan tempatnya berbaring. Tapi tidak pagi ini, mentari justru enggan menyibak tirai awanan putih itu, disaat ia bangun lebih awal, disaat ia memulai pagi yang berbeda. "Ada apa denganku sebenarnya?" Bisik Airin sendiri

Hingga tubuhnya menepi ke pagar balkon yang rendah, matanya sesekali terpejam sedikit lama. Airin coba menghirup napas lebih panjang, dan melepas udara yang menyesak di dadanya dengan perlahan. Seketika wajah Ardhi membayang, teringat sikapnya yang terasa janggal, mimik wajah saat mencandainya semalam kemarin itu, mencadai mengajaknya ke KUA.

" Benarkah dia menyayangiku?.. Ah sungguh bodoh!" , Airin mencerca sendiri, wajahnya seketika terasa hangat, entah mengapa. Dalam hatinya terbentik harap untuk menjadi wanita baik-baik, demi memantaskan diri menikah dengan pria yang setia. Airin terdiam, melihat berbagai lintasan pemikiran dirinya sendiri.

Hingga sebuah suara tanda pesan membuatnya kembali memasuki kamar, lalu hatinya kembali tidak menentu setelah membaca pesan dari majikannya.

"Huh! Momi pasti marah," Keluhnya sendiri, setelah membaca sederet pesan dari ponselnya. Lalu tubuhnya kembali ambruk mendarat di ranjang.

***

"Airin, para konsumen beberapa hari ini mengeluhkan kinerjamu," Majikan kembali menyalakan sebatang rokok menthol dengan memicingkan mata.

"Maaf Momi, " Airin hanya menjawab singkat, merunduk mendapati teguran dari majikannya.

"Benarkah kau menyimpan hati pada pemuda itu?" Momi menggeser pinggul sedikit, mencari posisi lebih nyaman sejak pertama Airin duduk diruangannya menjelang senja.

"Jatuh cinta bagi kita itu malapetaka Airin," Dengan terus mengepulkan asap rokok, kalimatnya terus bersambung tanpa memberi jeda Airin untuk menjawab.

"Momi bukan hendak menakutimu, tapi lelaki baik-baik yang menyayangimu dengan mengetahui pekerjaan kotor kita itu tidak mungkin," Momi tersenyum kecut, matanya memandang kosong pada suatu masa dan tempat yang menjadi kenangan.

"Dan perihal kata-kata cinta seorang lelaki di depan wanita yang hendak disetubuhinya?.. haha!" Momi meniup cepat asap tembakau yang ia hisap, lalu menoleh pada Airin dengan tertawa.

"Kenapa Momi?" Airin sedikit membuka mata, merasa majikannya itu kini tengah mengejek.

"Dia pasti dusta!"

ar, 1sept2017
#kerlip-kerlip harapan